Minggu, 04 Januari 2026

MAKALAH ILMU HADITS TENTANG FUNGSI HADITS TERHADAP AL QUR'AN

Makalah adalah karya ilmiyah yang membahas permasalahan dan pembahasannya dalam ruang lingkup ilmu pengetahuan berdasarkan analisis secara objektif yang dibuat oleh seseorang atau kelompok.
Komponen penyusunan makalah terdiri dari halaman cover, kata pengantar, daftar isi, pendahuluan, pembahasan dan penutup.



Berikut saya sajikan contoh makalah Ilmu Hadits tentang Fungsi Hadits terhadap Al Qur'an.

Kata Pengantar

Puji Syukur saya panjatkan kepada Allah swt yang masih memberikan kita kesehatan, sehingga saya dapat menyusun makalah dengan judul fungsi hadits terhadap Al Qur’an. Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah ilmu hadits di ….. (sesuaikan nama instansi).

Tak lupa salawat dan salamNya, semoga tetap tercurahkan kepada sang pembawa Islam, Nabi Muhammad SAW. Karena berkat beliaulah kita semua bisa mengenal arti hakikat kebaikan.

Ucapan terimakasih kepada bapak/ibu dosen/guru yang telah meluangkan waktunya dalam membimbing saya. Tak lupa juga, kepada teman-teman siswa/mahasiswa yang selalu mendukung saya dalam menyelesaikan tugas makalah ini.

Dalam penulisan makalah ini, saya menyadari masih banyak kesalahan dan kekurangan dalam teknik penulisan maupun materinya, mengingat kualitas saya sebagai penulis yang jauh dari kata ’sempurna’. Oleh karena itu, kritik dan saran dari semua pihak senantiasa penulis harapkan demi kesempurnaan penulisan makalah berikutnya.

Dengan segala kerendahan hati, kritik dan saran yang membangun dari pembaca menjadi penyemangat saya untuk menyajikan makalah yang lebih baik di waktu yang akan datang dan pada tugas mata kuliah selanjutnya.

Probolinggo, 03 Januari 2026

Penyusun

BAB I

Pendahuluan

1.1.       Latar Belakang Masalah

Hadits Rasulullah SAW adalah sumber hukum Islam kedua setelah Al Qur’an. Mempelajari hadits Nabi merupakan sebuah keharusan bagi umat Islam agar dapat memahami hukum Islam dengan sempurna.

Peranan Al Qur’an dan hadits merupakan simbiosi yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Dapat dikatakan bahwa antara Al Qur’an dan hadits Nabi adalah dua hal yang runtut, dimana Al Qur’an merupakan sumber hukum Islam yang paling utama, kemudian hadits sebagai turunannya.

Hadits juga menjadi kunci memahami makna yang terkandung di dalam Al Qur’an dengan gambaran apa yang tidak dijelaskan di dalam Al Qur’an, dijelaskan lewat hadits oleh Rasulullah SAW.

1.2.       Rumusan Masalah

Dari latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan beberapa rumusan masalah sebagai berikut ;

1.    Apa pengertian hadits Nabi?

2.    Apa saja macam-macamnya hadits?

3.    Apa fungsi hadits terhadap Al Qur’an?

1.3.       Tujuan Penulisan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah

1.    Pembaca dapat memahami apa itu hadits berdasarkan pengertiannya secara istilah.

2.    Pembaca mengetahui macam-macam hadits

3.    Pembaca dapat memahami apa perbedaan hadits Nabawi, hadits qudsi, dan Al Qur’an.

4.    Pembaca dapat mengetahui fungsi hadits Nabi terhadap Al Qur’an


BAB II

Pembahasan

Pengertian Hadits, Khabar, Atsar dan Sunnah

Hadits secara bahasa (etimologi) berarti sesuatu yang jadid (baru), lawan kata dari qadim (sesuatu yang lama). Hadits juga berarti khabar yang berarti kabar atau info, yaitu sesuatu yang diucapkan oleh orang lain kepada orang lain. Sedangkan menurut istilah, seorang ulama ternama, Muhammad ’Ajjaj Al Khatib mengemukakan pengertian hadits adalah segala hal yang berasal dari Rasulullah SAW, baik perkataan, perbuatan, ketetapan, kondisi fisik dan budi pekerti, serta jalan hidup beliau sebelum atau sesudah diutus Allah swt sebagai rasul.

Sunnah menurut bahasa adalah Thariq yang berarti jalan. Menurut istilah, Sayyid Muhammad Bin Sayyid Alawi Al Maliki, dalam kitabnya, Al Qawaid Al Asasiyah Fi ’Ilmi Musthalahul Hadits, menyatakan bahwa sunnah adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Rasulullah, sahabat, atau tabi’in berupa perkataan, perbuatan, ataupun ketetapan.

Berdasarkan beberapa pendapat dari ulama di atas, terdapat kesamaan dalam pengertian hadits, khabar, dan sunnah yaitu terletak pada prinsip menyandarkannya kepada Rasulullah SAW. Baik itu hadits, khabar, dan sunnah adalah perkataan, perbuatan, dan ketetapan Rasulullah SAW.

Namun, perbedaan pendapat dari ulama lain menyebutkan bahwa ketiganya adalah sesuatu yang berbeda. penyebutan hadits dan khabar khusus pada yang berasal dari Nabi Muhammad, atsar berasal dari sahabat, dan sunnah berasal dari keduanya.

Fokus kita pada penulisan makalah ini adalah pada kata hadits dengan pengertian perkataan, perbuatan, dan ketetapan yang berasal dari Rasulullah SAW.

 

Pembagian Jenis Hadits Berdasarkan Sumbernya.

Dalam studi ilmu hadits, pembagian jenis hadits berdasarkan sumbernya ada dua macam, yaitu hadits nabawi dan hadits qudsi.

Hadits nabawi adalah hadits yang bersumber langsung dari Rasulullah sendiri, beliau yang mengucapkan, mengerjakan, ataupun menetapkan. Sedangkan hadits qudsi adalah Rasulullah yang menyampaikan hadits tersebut, namun menyandarkan redaksi haditsnya berasal dari Allah swt. Tetapi bukan berupa ayat Al Qur’an.

Berkaitan dengan pengertian hadits qudsi, ada beberapa perbedaan yang dapat kita pahami antara hadits qudsi dan Al Qur’an, yaitu;

  1. Al Qur’an adalah mukjizat yang tak lekang oleh waktu, terjaga dari perubahan dan pergeseran makna. Lafadz dalam kalimat, huruf, dan tatabahasanya mutawatir,
  2. Keharaman meriwayatkan Al Qur’an hanya dengan maknanya saja,
  3. Keharaman memegang Al Qur’an bagi orang yang berhadats, dan keharaman membacanya bagi orang yang junub
  4. Al Qur’an ditentukan sebagai bacaan shalat
  5. Al Qur’an jika dibaca dianggap sebagai ibadah, dan setiap hurufnya dibalas dengan sepuluh pahala.
  6. Penamaan kalimat atau paragraf yang ada di dalam Al Qur’an sebagai ayat. Dan sekumpulan ayat itu kemudian disebut dengan surat.
  7. Lafadz dan makna yang terkandung dalam Al Qur’an berasal dari Allah, membutuhkan penafsiran yang akurat untuk mengetahui maksud kata atau kalimat yang ada di dalamnya.

Beberapa perbedaan ini tidak berlaku kepada hadits qudsi, sehingga Al Qur’an dan hadits qudsi adalah dua hal yang berbeda, walaupun bersumber dari Allah Swt.

 

Fungsi Hadits Terhadap Al Qur’an.

Fungsi hadits terhadap Al Qur’an yang paling pokok adalah sebagai penjelasan (bayan) terhadap ayat yang terkandung di dalam Al Qur’an. Baik penjelasannya bersifat menguatkan (bayan taqriri) ataupun bersifat.

A.   Bayan Taqriri

Bayan Taqriri adalah fungsi hadits terhadap Al Qur’an untuk menetapkan, memantapkan, atau mengokohkan apa yang telah ditetapkan dalam Al Qur’an. Dalam artian tema yang disampaikan dalam hadits bukanlah tema baru, tetapi tema yang ada dalam Al Qur’an dipertegas dengan hadits yang disampaikan oleh Rasulullah SAW.

B.   Bayan Tafsiri

Bayan Tafsiri adalah fungsi hadits yang menjelaskan, menguraikan, atau menafsirkan makna yang terkandung dalam Al Qur’an. Hadits pada fungsi ini memiliki peran sebagai media penjelasan terhadap makna Al Qur’an yang bersifat abstrak.

Bayan tafsiri dibagi menjadi beberapa jenis berdasarkan perannya masing masing sebagai penjelasan Al Quran, yaitu sebagai berikut;

1)    Tafshil Al Mujmal

Yaitu hadits yang berfungsi untuk memperinci ayat Al Qur’an yang maknanya bersifat global.

2)    Tabyin Al Musytarak

Yaiut hadits yang berfungsi untuk menjelaskan makna kata dalam ayat Al Qur’an yang memiliki makna ganda.

3)    Takhsishul ’Am

Yaitu hadits yang berfungsi untuk mengkhususkan atau mengecualikan ayat yang bermakna umum.

4)    Bayan Tabdila

Yaitu hadits yang berfungsi untuk mengganti hukum yang telah lewat keberlakuannya.

Selain itu, Imam Malik menjelaskan bahwa hadits memiliki fungsi terhadap Al Qur’an sebagai 1) bayan taqrir (menetapkan), 2) bayan taudlih (menegaskan, memperjelas), 3) bayan tafshil (memperinci), 4) bayan tabsith (memperluas makna), dan 5) bayan tasyri’ (menjelaskan makna).

Dari beberapa fungsi hadits tersebut, menegaskan bahwa Al Qur’an merupakan kitab suci yang kompleks, sehingga membutuhkan hadits untuk memberikan penjelasan yang sesuai, agar umat Islam tidak salah menafsirkan makna atau maksud yang terkandung di dalam Al Qur’an.


BAB III

Penutup

Kesimpulan

Hadits Nabi Muhammad memiliki fungsi yang sangat vital untuk memberi kefahaman yang jelas terhadap Al Qur’an. Agar makna ayat Al Qur’an tidak keliru dipahami oleh umatnya.

Fungsi hadits Nabi terhadap Al Qur’an adalah sebagai bayan (penjelasan), baik sifatnya menguatkan ataupun menafsirkan makna yang terkandung di dalam Al Qur’an.

Sebagai bahan refleksi, sudah sepatutnya untuk kita bersyukur kepada Allah, karena telah mengutus seorang Rasulullah yang sangat perhatian terhadap kemampuan umatnya dalam memahami ayat Al Qur’an yang bersifat kompleks.

Saran

Sebagai penyempurna, penulis sangat berharap kritik dari para pembaca untuk bahan evaluasi penyusunan makalah berikutnya. Penulis dengan senang hati menerima kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan penyusunan makalah berikutnya.

Daftar Pustaka

Al Maliki, Muhammad Bin Alwi (1424). Al Qawaid Al Asasiyah Fi ‘Ilmi Musthalahil Hadits.

Khairul Fikri, Hamdani (2015). Fungsi Hadits Terhadap Al Qur’an. Tasamuh 12 (2), 178-188.


Semoga bermanfaat, sebagai contoh acuan penulisan makalah teman-teman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar