Kata Pengantar
Puji Syukur saya
panjatkan kepada Allah swt yang masih memberikan kita kesehatan, sehingga saya
dapat menyusun makalah dengan judul fungsi hadits terhadap Al Qur’an. Makalah ini
dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah ilmu hadits di ….. (sesuaikan nama
instansi).
Tak lupa salawat dan salamNya, semoga
tetap tercurahkan kepada sang pembawa Islam, Nabi Muhammad SAW. Karena berkat
beliaulah kita semua bisa mengenal arti hakikat kebaikan.
Ucapan terimakasih kepada bapak/ibu
dosen/guru yang telah meluangkan waktunya dalam membimbing saya. Tak lupa juga,
kepada teman-teman siswa/mahasiswa yang selalu mendukung saya dalam
menyelesaikan tugas makalah ini.
Dalam penulisan makalah ini, saya
menyadari masih banyak kesalahan dan kekurangan dalam teknik penulisan maupun
materinya, mengingat kualitas saya sebagai penulis yang jauh dari kata
’sempurna’. Oleh karena itu, kritik dan saran dari semua pihak senantiasa
penulis harapkan demi kesempurnaan penulisan makalah berikutnya.
Dengan segala kerendahan hati, kritik
dan saran yang membangun dari pembaca menjadi penyemangat saya untuk menyajikan
makalah yang lebih baik di waktu yang akan datang dan pada tugas mata kuliah
selanjutnya.
Probolinggo, 03 Januari 2026
Penyusun
BAB I
Pendahuluan
1.1. Latar Belakang Masalah
Hadits
Rasulullah SAW adalah sumber hukum Islam kedua setelah Al Qur’an. Mempelajari
hadits Nabi merupakan sebuah keharusan bagi umat Islam agar dapat memahami
hukum Islam dengan sempurna.
Peranan Al Qur’an
dan hadits merupakan simbiosi yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Dapat
dikatakan bahwa antara Al Qur’an dan hadits Nabi adalah dua hal yang runtut,
dimana Al Qur’an merupakan sumber hukum Islam yang paling utama, kemudian
hadits sebagai turunannya.
Hadits juga menjadi
kunci memahami makna yang terkandung di dalam Al Qur’an dengan gambaran apa
yang tidak dijelaskan di dalam Al Qur’an, dijelaskan lewat hadits oleh
Rasulullah SAW.
1.2. Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah di atas, maka dapat
dirumuskan beberapa rumusan masalah sebagai berikut ;
1.
Apa pengertian
hadits Nabi?
2.
Apa saja
macam-macamnya hadits?
3.
Apa fungsi hadits
terhadap Al Qur’an?
1.3. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah
1.
Pembaca dapat
memahami apa itu hadits berdasarkan pengertiannya secara istilah.
2.
Pembaca mengetahui macam-macam hadits
3.
Pembaca dapat memahami apa perbedaan hadits Nabawi, hadits
qudsi, dan Al Qur’an.
4. Pembaca dapat mengetahui fungsi hadits Nabi terhadap Al Qur’an
BAB II
Pembahasan
Pengertian Hadits,
Khabar, Atsar dan Sunnah
Hadits secara bahasa (etimologi)
berarti sesuatu yang jadid (baru), lawan kata dari qadim (sesuatu yang
lama). Hadits juga berarti khabar yang berarti kabar atau info, yaitu
sesuatu yang diucapkan oleh orang lain kepada orang lain. Sedangkan menurut
istilah, seorang ulama ternama, Muhammad ’Ajjaj Al Khatib mengemukakan
pengertian hadits adalah segala hal yang berasal dari Rasulullah SAW, baik
perkataan, perbuatan, ketetapan, kondisi fisik dan budi pekerti, serta jalan
hidup beliau sebelum atau sesudah diutus Allah swt sebagai rasul.
Sunnah menurut bahasa adalah Thariq
yang berarti jalan. Menurut istilah, Sayyid Muhammad Bin Sayyid Alawi Al
Maliki, dalam kitabnya, Al Qawaid Al Asasiyah Fi ’Ilmi Musthalahul Hadits, menyatakan
bahwa sunnah adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Rasulullah, sahabat,
atau tabi’in berupa perkataan, perbuatan, ataupun ketetapan.
Berdasarkan beberapa pendapat dari
ulama di atas, terdapat kesamaan dalam pengertian hadits, khabar, dan sunnah yaitu
terletak pada prinsip menyandarkannya kepada Rasulullah SAW. Baik itu hadits,
khabar, dan sunnah adalah perkataan, perbuatan, dan ketetapan Rasulullah SAW.
Namun, perbedaan pendapat dari ulama
lain menyebutkan bahwa ketiganya adalah sesuatu yang berbeda. penyebutan hadits
dan khabar khusus pada yang berasal dari Nabi Muhammad, atsar berasal dari
sahabat, dan sunnah berasal dari keduanya.
Fokus kita pada penulisan makalah ini
adalah pada kata hadits dengan pengertian perkataan, perbuatan, dan ketetapan
yang berasal dari Rasulullah SAW.
Pembagian Jenis
Hadits Berdasarkan Sumbernya.
Dalam studi ilmu hadits, pembagian
jenis hadits berdasarkan sumbernya ada dua macam, yaitu hadits nabawi dan
hadits qudsi.
Hadits nabawi adalah hadits yang bersumber
langsung dari Rasulullah sendiri, beliau yang mengucapkan, mengerjakan, ataupun
menetapkan. Sedangkan hadits qudsi adalah Rasulullah yang menyampaikan hadits
tersebut, namun menyandarkan redaksi haditsnya berasal dari Allah swt. Tetapi bukan
berupa ayat Al Qur’an.
Berkaitan dengan pengertian hadits
qudsi, ada beberapa perbedaan yang dapat kita pahami antara hadits qudsi dan Al
Qur’an, yaitu;
- Al Qur’an
adalah mukjizat yang tak lekang oleh waktu, terjaga dari perubahan dan
pergeseran makna. Lafadz dalam kalimat, huruf, dan tatabahasanya mutawatir,
- Keharaman
meriwayatkan Al Qur’an hanya dengan maknanya saja,
- Keharaman
memegang Al Qur’an bagi orang yang berhadats, dan keharaman membacanya
bagi orang yang junub
- Al Qur’an
ditentukan sebagai bacaan shalat
- Al Qur’an
jika dibaca dianggap sebagai ibadah, dan setiap hurufnya dibalas dengan
sepuluh pahala.
- Penamaan
kalimat atau paragraf yang ada di dalam Al Qur’an sebagai ayat. Dan sekumpulan
ayat itu kemudian disebut dengan surat.
- Lafadz
dan makna yang terkandung dalam Al Qur’an berasal dari Allah, membutuhkan
penafsiran yang akurat untuk mengetahui maksud kata atau kalimat yang ada
di dalamnya.
Beberapa perbedaan ini tidak berlaku
kepada hadits qudsi, sehingga Al Qur’an dan hadits qudsi adalah dua hal yang
berbeda, walaupun bersumber dari Allah Swt.
Fungsi Hadits Terhadap
Al Qur’an.
Fungsi hadits terhadap Al Qur’an yang
paling pokok adalah sebagai penjelasan (bayan) terhadap ayat yang
terkandung di dalam Al Qur’an. Baik penjelasannya bersifat menguatkan (bayan
taqriri) ataupun bersifat.
A.
Bayan Taqriri
Bayan Taqriri adalah
fungsi hadits terhadap Al Qur’an untuk menetapkan, memantapkan, atau
mengokohkan apa yang telah ditetapkan dalam Al Qur’an. Dalam artian tema yang
disampaikan dalam hadits bukanlah tema baru, tetapi tema yang ada dalam Al Qur’an
dipertegas dengan hadits yang disampaikan oleh Rasulullah SAW.
B.
Bayan Tafsiri
Bayan Tafsiri
adalah fungsi hadits yang menjelaskan, menguraikan, atau menafsirkan makna yang
terkandung dalam Al Qur’an. Hadits pada fungsi ini memiliki peran sebagai media
penjelasan terhadap makna Al Qur’an yang bersifat abstrak.
Bayan tafsiri dibagi
menjadi beberapa jenis berdasarkan perannya masing masing sebagai penjelasan Al
Quran, yaitu sebagai berikut;
1)
Tafshil Al Mujmal
Yaitu hadits yang
berfungsi untuk memperinci ayat Al Qur’an yang maknanya bersifat global.
2)
Tabyin Al Musytarak
Yaiut hadits yang
berfungsi untuk menjelaskan makna kata dalam ayat Al Qur’an yang memiliki makna
ganda.
3)
Takhsishul ’Am
Yaitu hadits yang
berfungsi untuk mengkhususkan atau mengecualikan ayat yang bermakna umum.
4)
Bayan Tabdila
Yaitu hadits yang
berfungsi untuk mengganti hukum yang telah lewat keberlakuannya.
Selain itu, Imam Malik menjelaskan
bahwa hadits memiliki fungsi terhadap Al Qur’an sebagai 1) bayan taqrir
(menetapkan), 2) bayan taudlih (menegaskan, memperjelas), 3) bayan tafshil (memperinci),
4) bayan tabsith (memperluas makna), dan 5) bayan tasyri’ (menjelaskan makna).
Dari beberapa fungsi hadits tersebut, menegaskan bahwa Al Qur’an merupakan kitab suci yang kompleks, sehingga membutuhkan hadits untuk memberikan penjelasan yang sesuai, agar umat Islam tidak salah menafsirkan makna atau maksud yang terkandung di dalam Al Qur’an.
BAB III
Penutup
Kesimpulan
Hadits Nabi Muhammad memiliki fungsi
yang sangat vital untuk memberi kefahaman yang jelas terhadap Al Qur’an. Agar makna
ayat Al Qur’an tidak keliru dipahami oleh umatnya.
Fungsi hadits Nabi terhadap Al Qur’an
adalah sebagai bayan (penjelasan), baik sifatnya menguatkan ataupun menafsirkan
makna yang terkandung di dalam Al Qur’an.
Sebagai bahan refleksi, sudah
sepatutnya untuk kita bersyukur kepada Allah, karena telah mengutus seorang
Rasulullah yang sangat perhatian terhadap kemampuan umatnya dalam memahami ayat
Al Qur’an yang bersifat kompleks.
Saran
Sebagai penyempurna, penulis sangat berharap kritik dari
para pembaca untuk bahan evaluasi penyusunan makalah berikutnya. Penulis dengan
senang hati menerima kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan
penyusunan makalah berikutnya.
Daftar Pustaka
Al Maliki, Muhammad Bin Alwi (1424). Al Qawaid Al Asasiyah Fi ‘Ilmi
Musthalahil Hadits.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar