Senin, 05 Januari 2026

DUNIA MEDIS DALAM ISLAM

Islam menetapkan tujuan pokok ajarannya adalah untuk memelihara agama, jiwa, akal, harta dan keturunan. Lima hal dalam kaidah ushuliyah ini biasa dikenal dengan Al Mabadi’ Al Khamsah yang dalam bahasa Indonesia disebut dengan “lima prinsip pokok”. Lima hal ini juga disebut dengan maqashid syari’ah, yang dalam bahasa Indonesia disebut dengan tujuan pokok hukum syariat.



Untuk mengetahui perhatian Islam terhadap ilmu medis, bisa kita lihat dari setidaknya ada 3 hal dari lima hal diatas yang orientasinya kepada kesehatan atau dunia medis, yaitu memelihara jiwa, akal, dan keturunan. Sehingga tidak heran jika Islam sangat kaya dengan tuntunan Kesehatan.

Alasan lain yang dapat diambil kesimpulan sebagai penguat akan pentingnya ilmu medis dalam dunia Islam adalah;

1.    Wahyu pertama yang turun adalah surat Al Alaq (segumpal darah) dimana segumpal darah adalah kata yang erat sekali berkaitan dengan ilmu medis.

2.    Wahyu kedua yang diturunkan Allah Swt adalah surat Al Muddatstsir, yang salah satu ayatnya berbunyi وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ (dan bersihkanlah pakaianmu). Isi ayat ini mengandung pemahaman yang jelas tentang pentingnya menjaga kesehatan.

3.    Terdapat istilah sihhah dan ’afiyah yang biasa kita dengar dalam kehidupan literatur keagamaan yang menunjukkan bahwa sehat jasmani dan rohani bukanlah sesuatu yang dinafikan dalam Islam

4.    Jika kita menilik kembali sejarah peradaban Islam, di masa Daulah Abbasiyah merupakan suatu era dimana ilmu pengetahuan berkembang dengan pesatnya. Kemajuan tradisi keilmuan tidak terbatas hanya pada satu bidang ilmu saja, tetapi mencakup seluruh bidang, tak terkecuali di bidang ilmu kesehatan. Tardisi keilmuan ini melahirkan beberapa tokoh terkenal dalam bidang kedokteran, seperti Ibnu Sina, Ar Razy, dan Al Zahrawi.

Dalam literatur fikih Islam, hampir semuanya menaruh perhatian pertamanya pada kesehatan dan kebersihan. Bukan hanya kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental. Setiap kitab fikih mengawali pembahasan pertamanya tentang thaharah yang membahas tentang kesucian dan kebersihan. Bahkan, Islam meletakkan thaharah sebagai salah satu syarat untuk melaksanakan proses ibadah agar ibadah bisa sah.

Ajaran Islam yang disyariatkan kepada umatnya seluruhnya memiliki korelasi yang berorientasi pada kesehatan fisik dan mental. Korelasi ini mencakup seluruh aspek kesehatan. Berikut adalah aspek kesehatan dalam ajaran Islam yang berkorelasi dengan ajarannya;

1.    Sanitation and personal hygiene (kesehatan lingkungan dan kesehatan perorangan). Hal tersebut tercermin dalam praktek wudlu, istinja’, mandi, serta kebersihan lingkungan sekitar.

2.    Epidemiologi (preventif penyakit menular)

3.    Pencegahan penyakit menular yang disebabkan oleh binatang, seperti praktik ajaran tentang perintah membunuh tikus, kalajengking, musang, catak, kutu, dan katak.

4.    Nutrisi (kesehatan makanan). Islam menganjurkan umatnya untuk menkonsumsi makanan yang baik, mengharamkan makanan yang menjijikkan, dan selektif terhadap makanan yang halal dan haram.

5.    Sex hygiene (kesehatan seks). Hal ini tercermin misalnya dalam praktek mandi setelah bersetubuh, istinja’ setelah kencing atau berak, dilarang menggauli istri yang sedang haidl, larangan berzina, homoseks, onani, dan tatacara seks yang aman.

6.    Mental and physic hygiene (kesehatan mental dan fisik). Islam mengajarkan sabar dalam menghadapi ujian, tawakkal, tidak putus asa, larangan berbuat zalim. Sehingga, manifestasi yang muncul dari perilaku ini adalah jiwa yang tenang dan tidak stres.

7.    Body building (bina raga). Hal ini tercermin dalam kesunnahan melakukan kegiatan olahraga memanah, menunggang kuda, dan berenang.

8.    Occapational medicine (Kesehatan kerja). Yaitu jaminan untuk menjaga upah kerja, seperti anjuran Rasulullah SAW untuk memberikan upah kepada pekerja sebelum keringat mereka kering.

9.    Geriatris (memelihara manula), dimana Islam mengajarkan untuk selalu berbakti kepada orang tua, sehingga secara tidak langsung Islam mengajak umatnya untuk memelihara dan menjaga manula.

10. Maternal and child health (kesehatan ibu dan anak), hal ini tercermin dalam penjelasan Al Qur’an tentang kondisi ibu saat hamil. Ibu yang sedang hamil mengalami penderitaan yang sangat sulit, sehingga tidak patut membebankan beban berat kepada ibu yang sedang hamil. Al Qur’an juga menjelaskan bahwa seorang ibu akan menyusui anaknya selama dua tahun, yang sangat berperan terhadap tumbuh kembang anak.

Dari keterangan diatas, dapat kita simpulkan bahwa Islam dan dunia medis memiliki keterkaitan yang tidak bisa dipisahkan. Islam memberi perhatian serius kepada kesehatan. Sehingga korelasi yang pas terjalin antara ajaran islam itu sendiri dengan fungsinya terhadap medis.

Terima kasih, semoga bermanfaat.

Sumber bacaan : Al Hafidz, Ahsin W. (2010). Fikih Kesehatan. Jakarta: Amzah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar