Rabu, 07 Januari 2026

FUNGSI GERAKAN SHOLAT TERHADAP KESEHATAN

Shalat secara bahasa berarti doa, sedangkan menurut istilah adalah ritual ibadah yang berisi gerakan-gerakan tertentu dan bacaan-bacaan tertentu yang diawali dengan takbiratul ikhram dan diakhiri dengan salam.

Dalam ritual shalat, Gerakan-gerakan yang dilakukan sangat unik. Gerakan ini memiliki fungsi yang baik terhadap kesehatan, baik kesehatan jiwa maupun kesehatan fisik.


Prof. Dr. HA. Saboe, dalam bukunya Hikmah Kesehatan dalam Shalat mengatakan bahwa gerakan-gerakan mengandung gerakan yang baik untuk kesehatan jasmaniah, dan dengan sendirinya akan membawa pada aspek kesehatan mental seseorang.

Dokter Mahmud Ahmad Najib mengatakan bahwa gerakan-gerakan shalat yang dilakukan secara terus-menerus akan membuat persendian menjadi lentur, tidak kaku, dan tulang menjadi kokoh, serta tulang punggung tidak bengkok.

Syekh Hakim Abu Abdullah Ghulam Moinuddin, dalam bukunya The Book of Sufi Healing, shalat dikerjakan dengan delapan posisi yang masing-masing memberikan efek yang baik bagi seseorang.

Drs. Ahsin W. Alhafidz, M.A, dalam bukunya Fikih Kesehatan, menjelaskan beberapa fungsi gerakan-gerakan shalat bagi tubuh manusia. Gerakan-gerakan shalat ini memiliki fungsi gymnastik yang baik untuk kesehatan jasmani maupun rohani seseorang. Fungsi gerakan tersebut diuraikan sebagai berikut;

A.  Posisi Berdiri Tegak

Dalam posisi ini, tubuh terbebas dari beban karena pembagian porsi beban yang sama pada kedua kaki. Posisi punggung yang tegak lurus berfungsi memperbaiki postur. Pikiran dikendalikan oleh akal budi. Pandangan dipertajam dan fokus pada lantai, tempat sujud. Otot punggung bagian atas dan bawah dirilekskan. Pusat otak bagian atas dan bawah dipadukan membentuk suatu kesatuan tujuan.

B.  Posisi Tangan di atas Pusar

Pada posisi ini, akan memperpanjang konsentrasi sehingga akan terjadi pengendoran kaki dan punggung, menimbulkan perasaan kerendahan hati, kesederhanaan dan kesalehan.

C.   Posisi Ruku’

Pada posisi ini, terjadi pelonggaran otot punggung bagian bawah, paha dan betis. Darah dipompa ke batang tubuh bagian atas. Juga terjadi pelonggaran otot-otot perut, abdomen, dan ginjal. Postur ini akan melahirkan kebaikan hati dan keselarasan batin.

Posisi ruku’ juga akan membuat tulang punggung dalam kondisi yang baik, karena persendian diantara badan-badan dan ruas tulang belakang tetap lembut dan lentur. Posisi ini juga akan membantu mempermudah proses persalinan bagi wanita hamil. Juga berfungsi menjauhkan penyakit keretakan tulang punggung dan kebengkokannya.

D.  Posisi I’tidal

Pada gerakan ini, terjadi pergerakan darah naik ke batang tubuh pada postur sebelumnya kembali ke keadaan semula dengan membawa toksin atau racun. Tubuh akan santai kembali dan melepaskan ketegangan.

E.   Posisi Sujud

Pada saat bersujud dengan melatakkan tangan disamping lutut, semua otot akan berkontraksi, otot akan melebar dan kuat, urat-urat pembuluh nadi (arteria), pembuluh darah baik (venae) serta urat-urat getah bening (limpa) akan terpijit, sehingga peredaran darah dan limpa akan lancar. Selain itu, akan membantu kinerja jantung dan menghindarkan pengerutan dinding-dinding pembuluh darah (arterio-sclrosisi) akan menghasilkan energi panas yang diperlukan dalam proses pencernaan makanan yang diperlukan oleh tubuh. Aliran darah akan semakin lancar untuk membuang zat-zat kotor yang berasal dari zat makanan.

Posisi ini juga akan menghindarkan dari kebuncitan, melancarkan aliran darah ke bagian atas tubuh, mengurangi hypertensi, menambah elastisitas tulang, dan menghasilkan energi batin yang tinggi di seluruh tubuh.

F.    Posisi Duduk antara Dua Sujud

Tetap menjaga fungsi hati dengan baik sangat penting untuk menjaga kesehatan seluruh tubuh. Hati merupakan organ vital yang sangat dibutuhkan fungsinya oleh tubuh manusia. Pada posisi duduk diantara dua sujud ini, akan membawa efek positif terhadap fungsi hati.

Bagi laki-laki, posisi tumit kanan ditekuk dengan bobot kaki dan tubuh bertumpu pada tumit tersebut akan membantu menghilangkan efek racun pada hati dan membantu merangsang gerakan paristaltik usus besar. Pada wanita, posisi seperti ini membuat tubuh kembali ke posisi pengendoran yang benar dan membantu pencernaan dengan mendesak turun isi perut.

G.  Sujud Kedua

Pengulangan sujud yang lama dalam beberapa detik akan membersihkan sistem pernafasan, peredaran darah, merasakan keringanan tubuh, dan melepaskan stres.

H.   Posisi Duduk Tahiyat

Pada posisi duduk tahiyat, sebenarnya kita duduk dengan otot-otot pangkal paha, di dalamnya terdapat salah satu syaraf pangkal paha yang besar diatas kedua tumit kita. Tumit dilapisi oleh sebuah otot yang berfungsi sebagai bantal. Dengan demikian maka tumit menekan otot-otot pangkal pada syaraf pangkal paha (neuralgia) yang terasa sakit dan nyeri.

Dari penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa ritual pelaksanaan shalat bukan hanya sebagai bentuk ketaatan kita sebagai muslim yang baik, tetapi gerakan shalat akan memberi kita fungsi yang baik terhadap kesehatan tubuh dan mental manusia.

 

Terima kasih, semoga bermanfaat.

Daftar bacaan : Drs. Ahsin W. Alhafid, M.A Fikih Kesehatan. Amzah. Jakarta. 2010.

Senin, 05 Januari 2026

DUNIA MEDIS DALAM ISLAM

Islam menetapkan tujuan pokok ajarannya adalah untuk memelihara agama, jiwa, akal, harta dan keturunan. Lima hal dalam kaidah ushuliyah ini biasa dikenal dengan Al Mabadi’ Al Khamsah yang dalam bahasa Indonesia disebut dengan “lima prinsip pokok”. Lima hal ini juga disebut dengan maqashid syari’ah, yang dalam bahasa Indonesia disebut dengan tujuan pokok hukum syariat.



Untuk mengetahui perhatian Islam terhadap ilmu medis, bisa kita lihat dari setidaknya ada 3 hal dari lima hal diatas yang orientasinya kepada kesehatan atau dunia medis, yaitu memelihara jiwa, akal, dan keturunan. Sehingga tidak heran jika Islam sangat kaya dengan tuntunan Kesehatan.

Alasan lain yang dapat diambil kesimpulan sebagai penguat akan pentingnya ilmu medis dalam dunia Islam adalah;

1.    Wahyu pertama yang turun adalah surat Al Alaq (segumpal darah) dimana segumpal darah adalah kata yang erat sekali berkaitan dengan ilmu medis.

2.    Wahyu kedua yang diturunkan Allah Swt adalah surat Al Muddatstsir, yang salah satu ayatnya berbunyi وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ (dan bersihkanlah pakaianmu). Isi ayat ini mengandung pemahaman yang jelas tentang pentingnya menjaga kesehatan.

3.    Terdapat istilah sihhah dan ’afiyah yang biasa kita dengar dalam kehidupan literatur keagamaan yang menunjukkan bahwa sehat jasmani dan rohani bukanlah sesuatu yang dinafikan dalam Islam

4.    Jika kita menilik kembali sejarah peradaban Islam, di masa Daulah Abbasiyah merupakan suatu era dimana ilmu pengetahuan berkembang dengan pesatnya. Kemajuan tradisi keilmuan tidak terbatas hanya pada satu bidang ilmu saja, tetapi mencakup seluruh bidang, tak terkecuali di bidang ilmu kesehatan. Tardisi keilmuan ini melahirkan beberapa tokoh terkenal dalam bidang kedokteran, seperti Ibnu Sina, Ar Razy, dan Al Zahrawi.

Dalam literatur fikih Islam, hampir semuanya menaruh perhatian pertamanya pada kesehatan dan kebersihan. Bukan hanya kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental. Setiap kitab fikih mengawali pembahasan pertamanya tentang thaharah yang membahas tentang kesucian dan kebersihan. Bahkan, Islam meletakkan thaharah sebagai salah satu syarat untuk melaksanakan proses ibadah agar ibadah bisa sah.

Ajaran Islam yang disyariatkan kepada umatnya seluruhnya memiliki korelasi yang berorientasi pada kesehatan fisik dan mental. Korelasi ini mencakup seluruh aspek kesehatan. Berikut adalah aspek kesehatan dalam ajaran Islam yang berkorelasi dengan ajarannya;

1.    Sanitation and personal hygiene (kesehatan lingkungan dan kesehatan perorangan). Hal tersebut tercermin dalam praktek wudlu, istinja’, mandi, serta kebersihan lingkungan sekitar.

2.    Epidemiologi (preventif penyakit menular)

3.    Pencegahan penyakit menular yang disebabkan oleh binatang, seperti praktik ajaran tentang perintah membunuh tikus, kalajengking, musang, catak, kutu, dan katak.

4.    Nutrisi (kesehatan makanan). Islam menganjurkan umatnya untuk menkonsumsi makanan yang baik, mengharamkan makanan yang menjijikkan, dan selektif terhadap makanan yang halal dan haram.

5.    Sex hygiene (kesehatan seks). Hal ini tercermin misalnya dalam praktek mandi setelah bersetubuh, istinja’ setelah kencing atau berak, dilarang menggauli istri yang sedang haidl, larangan berzina, homoseks, onani, dan tatacara seks yang aman.

6.    Mental and physic hygiene (kesehatan mental dan fisik). Islam mengajarkan sabar dalam menghadapi ujian, tawakkal, tidak putus asa, larangan berbuat zalim. Sehingga, manifestasi yang muncul dari perilaku ini adalah jiwa yang tenang dan tidak stres.

7.    Body building (bina raga). Hal ini tercermin dalam kesunnahan melakukan kegiatan olahraga memanah, menunggang kuda, dan berenang.

8.    Occapational medicine (Kesehatan kerja). Yaitu jaminan untuk menjaga upah kerja, seperti anjuran Rasulullah SAW untuk memberikan upah kepada pekerja sebelum keringat mereka kering.

9.    Geriatris (memelihara manula), dimana Islam mengajarkan untuk selalu berbakti kepada orang tua, sehingga secara tidak langsung Islam mengajak umatnya untuk memelihara dan menjaga manula.

10. Maternal and child health (kesehatan ibu dan anak), hal ini tercermin dalam penjelasan Al Qur’an tentang kondisi ibu saat hamil. Ibu yang sedang hamil mengalami penderitaan yang sangat sulit, sehingga tidak patut membebankan beban berat kepada ibu yang sedang hamil. Al Qur’an juga menjelaskan bahwa seorang ibu akan menyusui anaknya selama dua tahun, yang sangat berperan terhadap tumbuh kembang anak.

Dari keterangan diatas, dapat kita simpulkan bahwa Islam dan dunia medis memiliki keterkaitan yang tidak bisa dipisahkan. Islam memberi perhatian serius kepada kesehatan. Sehingga korelasi yang pas terjalin antara ajaran islam itu sendiri dengan fungsinya terhadap medis.

Terima kasih, semoga bermanfaat.

Sumber bacaan : Al Hafidz, Ahsin W. (2010). Fikih Kesehatan. Jakarta: Amzah.

Minggu, 04 Januari 2026

MAKALAH ILMU HADITS TENTANG FUNGSI HADITS TERHADAP AL QUR'AN

Makalah adalah karya ilmiyah yang membahas permasalahan dan pembahasannya dalam ruang lingkup ilmu pengetahuan berdasarkan analisis secara objektif yang dibuat oleh seseorang atau kelompok.
Komponen penyusunan makalah terdiri dari halaman cover, kata pengantar, daftar isi, pendahuluan, pembahasan dan penutup.



Berikut saya sajikan contoh makalah Ilmu Hadits tentang Fungsi Hadits terhadap Al Qur'an.

Kata Pengantar

Puji Syukur saya panjatkan kepada Allah swt yang masih memberikan kita kesehatan, sehingga saya dapat menyusun makalah dengan judul fungsi hadits terhadap Al Qur’an. Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah ilmu hadits di ….. (sesuaikan nama instansi).

Tak lupa salawat dan salamNya, semoga tetap tercurahkan kepada sang pembawa Islam, Nabi Muhammad SAW. Karena berkat beliaulah kita semua bisa mengenal arti hakikat kebaikan.

Ucapan terimakasih kepada bapak/ibu dosen/guru yang telah meluangkan waktunya dalam membimbing saya. Tak lupa juga, kepada teman-teman siswa/mahasiswa yang selalu mendukung saya dalam menyelesaikan tugas makalah ini.

Dalam penulisan makalah ini, saya menyadari masih banyak kesalahan dan kekurangan dalam teknik penulisan maupun materinya, mengingat kualitas saya sebagai penulis yang jauh dari kata ’sempurna’. Oleh karena itu, kritik dan saran dari semua pihak senantiasa penulis harapkan demi kesempurnaan penulisan makalah berikutnya.

Dengan segala kerendahan hati, kritik dan saran yang membangun dari pembaca menjadi penyemangat saya untuk menyajikan makalah yang lebih baik di waktu yang akan datang dan pada tugas mata kuliah selanjutnya.

Probolinggo, 03 Januari 2026

Penyusun

BAB I

Pendahuluan

1.1.       Latar Belakang Masalah

Hadits Rasulullah SAW adalah sumber hukum Islam kedua setelah Al Qur’an. Mempelajari hadits Nabi merupakan sebuah keharusan bagi umat Islam agar dapat memahami hukum Islam dengan sempurna.

Peranan Al Qur’an dan hadits merupakan simbiosi yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Dapat dikatakan bahwa antara Al Qur’an dan hadits Nabi adalah dua hal yang runtut, dimana Al Qur’an merupakan sumber hukum Islam yang paling utama, kemudian hadits sebagai turunannya.

Hadits juga menjadi kunci memahami makna yang terkandung di dalam Al Qur’an dengan gambaran apa yang tidak dijelaskan di dalam Al Qur’an, dijelaskan lewat hadits oleh Rasulullah SAW.

1.2.       Rumusan Masalah

Dari latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan beberapa rumusan masalah sebagai berikut ;

1.    Apa pengertian hadits Nabi?

2.    Apa saja macam-macamnya hadits?

3.    Apa fungsi hadits terhadap Al Qur’an?

1.3.       Tujuan Penulisan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah

1.    Pembaca dapat memahami apa itu hadits berdasarkan pengertiannya secara istilah.

2.    Pembaca mengetahui macam-macam hadits

3.    Pembaca dapat memahami apa perbedaan hadits Nabawi, hadits qudsi, dan Al Qur’an.

4.    Pembaca dapat mengetahui fungsi hadits Nabi terhadap Al Qur’an


BAB II

Pembahasan

Pengertian Hadits, Khabar, Atsar dan Sunnah

Hadits secara bahasa (etimologi) berarti sesuatu yang jadid (baru), lawan kata dari qadim (sesuatu yang lama). Hadits juga berarti khabar yang berarti kabar atau info, yaitu sesuatu yang diucapkan oleh orang lain kepada orang lain. Sedangkan menurut istilah, seorang ulama ternama, Muhammad ’Ajjaj Al Khatib mengemukakan pengertian hadits adalah segala hal yang berasal dari Rasulullah SAW, baik perkataan, perbuatan, ketetapan, kondisi fisik dan budi pekerti, serta jalan hidup beliau sebelum atau sesudah diutus Allah swt sebagai rasul.

Sunnah menurut bahasa adalah Thariq yang berarti jalan. Menurut istilah, Sayyid Muhammad Bin Sayyid Alawi Al Maliki, dalam kitabnya, Al Qawaid Al Asasiyah Fi ’Ilmi Musthalahul Hadits, menyatakan bahwa sunnah adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Rasulullah, sahabat, atau tabi’in berupa perkataan, perbuatan, ataupun ketetapan.

Berdasarkan beberapa pendapat dari ulama di atas, terdapat kesamaan dalam pengertian hadits, khabar, dan sunnah yaitu terletak pada prinsip menyandarkannya kepada Rasulullah SAW. Baik itu hadits, khabar, dan sunnah adalah perkataan, perbuatan, dan ketetapan Rasulullah SAW.

Namun, perbedaan pendapat dari ulama lain menyebutkan bahwa ketiganya adalah sesuatu yang berbeda. penyebutan hadits dan khabar khusus pada yang berasal dari Nabi Muhammad, atsar berasal dari sahabat, dan sunnah berasal dari keduanya.

Fokus kita pada penulisan makalah ini adalah pada kata hadits dengan pengertian perkataan, perbuatan, dan ketetapan yang berasal dari Rasulullah SAW.

 

Pembagian Jenis Hadits Berdasarkan Sumbernya.

Dalam studi ilmu hadits, pembagian jenis hadits berdasarkan sumbernya ada dua macam, yaitu hadits nabawi dan hadits qudsi.

Hadits nabawi adalah hadits yang bersumber langsung dari Rasulullah sendiri, beliau yang mengucapkan, mengerjakan, ataupun menetapkan. Sedangkan hadits qudsi adalah Rasulullah yang menyampaikan hadits tersebut, namun menyandarkan redaksi haditsnya berasal dari Allah swt. Tetapi bukan berupa ayat Al Qur’an.

Berkaitan dengan pengertian hadits qudsi, ada beberapa perbedaan yang dapat kita pahami antara hadits qudsi dan Al Qur’an, yaitu;

  1. Al Qur’an adalah mukjizat yang tak lekang oleh waktu, terjaga dari perubahan dan pergeseran makna. Lafadz dalam kalimat, huruf, dan tatabahasanya mutawatir,
  2. Keharaman meriwayatkan Al Qur’an hanya dengan maknanya saja,
  3. Keharaman memegang Al Qur’an bagi orang yang berhadats, dan keharaman membacanya bagi orang yang junub
  4. Al Qur’an ditentukan sebagai bacaan shalat
  5. Al Qur’an jika dibaca dianggap sebagai ibadah, dan setiap hurufnya dibalas dengan sepuluh pahala.
  6. Penamaan kalimat atau paragraf yang ada di dalam Al Qur’an sebagai ayat. Dan sekumpulan ayat itu kemudian disebut dengan surat.
  7. Lafadz dan makna yang terkandung dalam Al Qur’an berasal dari Allah, membutuhkan penafsiran yang akurat untuk mengetahui maksud kata atau kalimat yang ada di dalamnya.

Beberapa perbedaan ini tidak berlaku kepada hadits qudsi, sehingga Al Qur’an dan hadits qudsi adalah dua hal yang berbeda, walaupun bersumber dari Allah Swt.

 

Fungsi Hadits Terhadap Al Qur’an.

Fungsi hadits terhadap Al Qur’an yang paling pokok adalah sebagai penjelasan (bayan) terhadap ayat yang terkandung di dalam Al Qur’an. Baik penjelasannya bersifat menguatkan (bayan taqriri) ataupun bersifat.

A.   Bayan Taqriri

Bayan Taqriri adalah fungsi hadits terhadap Al Qur’an untuk menetapkan, memantapkan, atau mengokohkan apa yang telah ditetapkan dalam Al Qur’an. Dalam artian tema yang disampaikan dalam hadits bukanlah tema baru, tetapi tema yang ada dalam Al Qur’an dipertegas dengan hadits yang disampaikan oleh Rasulullah SAW.

B.   Bayan Tafsiri

Bayan Tafsiri adalah fungsi hadits yang menjelaskan, menguraikan, atau menafsirkan makna yang terkandung dalam Al Qur’an. Hadits pada fungsi ini memiliki peran sebagai media penjelasan terhadap makna Al Qur’an yang bersifat abstrak.

Bayan tafsiri dibagi menjadi beberapa jenis berdasarkan perannya masing masing sebagai penjelasan Al Quran, yaitu sebagai berikut;

1)    Tafshil Al Mujmal

Yaitu hadits yang berfungsi untuk memperinci ayat Al Qur’an yang maknanya bersifat global.

2)    Tabyin Al Musytarak

Yaiut hadits yang berfungsi untuk menjelaskan makna kata dalam ayat Al Qur’an yang memiliki makna ganda.

3)    Takhsishul ’Am

Yaitu hadits yang berfungsi untuk mengkhususkan atau mengecualikan ayat yang bermakna umum.

4)    Bayan Tabdila

Yaitu hadits yang berfungsi untuk mengganti hukum yang telah lewat keberlakuannya.

Selain itu, Imam Malik menjelaskan bahwa hadits memiliki fungsi terhadap Al Qur’an sebagai 1) bayan taqrir (menetapkan), 2) bayan taudlih (menegaskan, memperjelas), 3) bayan tafshil (memperinci), 4) bayan tabsith (memperluas makna), dan 5) bayan tasyri’ (menjelaskan makna).

Dari beberapa fungsi hadits tersebut, menegaskan bahwa Al Qur’an merupakan kitab suci yang kompleks, sehingga membutuhkan hadits untuk memberikan penjelasan yang sesuai, agar umat Islam tidak salah menafsirkan makna atau maksud yang terkandung di dalam Al Qur’an.


BAB III

Penutup

Kesimpulan

Hadits Nabi Muhammad memiliki fungsi yang sangat vital untuk memberi kefahaman yang jelas terhadap Al Qur’an. Agar makna ayat Al Qur’an tidak keliru dipahami oleh umatnya.

Fungsi hadits Nabi terhadap Al Qur’an adalah sebagai bayan (penjelasan), baik sifatnya menguatkan ataupun menafsirkan makna yang terkandung di dalam Al Qur’an.

Sebagai bahan refleksi, sudah sepatutnya untuk kita bersyukur kepada Allah, karena telah mengutus seorang Rasulullah yang sangat perhatian terhadap kemampuan umatnya dalam memahami ayat Al Qur’an yang bersifat kompleks.

Saran

Sebagai penyempurna, penulis sangat berharap kritik dari para pembaca untuk bahan evaluasi penyusunan makalah berikutnya. Penulis dengan senang hati menerima kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan penyusunan makalah berikutnya.

Daftar Pustaka

Al Maliki, Muhammad Bin Alwi (1424). Al Qawaid Al Asasiyah Fi ‘Ilmi Musthalahil Hadits.

Khairul Fikri, Hamdani (2015). Fungsi Hadits Terhadap Al Qur’an. Tasamuh 12 (2), 178-188.


Semoga bermanfaat, sebagai contoh acuan penulisan makalah teman-teman.

Jumat, 02 Januari 2026

UNGKAPAN SEHARI-HARI BERBAHASA ARAB DAN ARTINYA

Bahasa Arab adalah bahasa penting dalam dunia Islam sebagai sarana memahami makna yang terkandung di dalam kitab suci Al Qur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAW. Disamping itu, bahasa Arab menjadi bahasa perantara sosial antar manusia, khususnya bangsa Arab.

Penggunaan bahasa Arab tidak terbatas pada memahami makna kitab suci saja. Seiring berkembangnya zaman, bahasa Arab memiliki peran yang cukup penting dalam berbagai kegiatan manusia yang ingin berinteraksi langsung dengan orang Arab untuk menjalin hubungan yang lebih luas. Misalnya, kita ingin kuliah ke negeri-negeri Arab, hubungan bisnis, hubungan bilateral, pekerjaan, dll.



Oke, saya cantumkan beberapa ungkapan sehari-hari yang dapat digunakan untuk praktek individu dalam berbahasa Arab. Ungkapan ini sifatnya fusha, bukan amiyah, ya.

صَبَاحُ الخَيْرِ selamat pagi

نَهَارُكَ سَعِيْدٌ selamat siang

مَسَاءُ الخَيْرِ selamat sore

لَيْلُكَ مُبَارَكٌ selamat malam

كَيْفَ حَالُكَ؟apa kabar?

مَا اسْمُكَ؟ siapa namamu ?

أَيْنَ بَيْتُكَ؟ dimana rumahmu?

كَمْ عُمْرُكَ؟ berapa umurmu?

أَنَا سَعِيْدٌ بِلِقَائِكَ saya senang bertemu denganmu.

أَنَا فِي انْتِظَارِكَ saya menunggumu

عَلَى الاَقَلِّ minimalnya

عَلَى الاَكْثَرِmaksimalnya

بَلِّغْ عَلَيْهِ سَلاَمِيْ ! sampaikan salamku padanya !

شُكْرًا terima kasih

عَفْوًا, لاَ شُكْرَ عَلَى وَاجِبٍ sama-sama

أَنَا مُشْتَاقٌ اِلَيْكَ aku rindu padamu

أَنَا أُحِبُّ اِلَيْكَ aku cinta padamu

Itu dulu ya.

Untuk ungkapan yang lain, saya posting berikutnya ya.

CONTOH SOAL BAHASA ARAB KELAS VII SEMESTER GANJIL

Bapak/ibu guru Bahasa Arab di MTs bisa menggunakan contoh soal ini dalam Asesmen Sumatif Akhir Semester untuk kelas VII (tujuh) semester Ganjil di sekolah bapak/ibu masing-masing.



Berikut ini saya sajikan contoh soal Bahasa Arab Kelas VII semester ganjil.

1.    لاَخِظِ الحِوَارَ الاَتِيَةَ !

أَنْوَرْ   : اِلَى أَيْنَ سَتَذْهَبُ, يَا أَخِيْ ؟

مُوْسَى : سَأَذْهَبُ اِلَى ... لِأَقْرَأَ الكُتُبَ فِيْهَا

أَنْوَرْ   : هَلْ تَسْمَحُ لِيْ أَنْ أَتبَعَكَ ؟

مُوْسَى : طَبْعًا, هَيَّا بِنَا نَقْرَاُ مَعًا

a.     الْحَمَّامِ

b.    الْمَيْدَانِ

c.     الــمَكتبة

d.    السَّاحَةِ

Jawaban : C

2.      يَتَعَلَّمُ خَالِدٌ اللُّغَةَ العَرَبِيَّةَ وَ اللُّغَةَ الإِنْجِلِيْزِيَّةَ فِي ...

a.      مَعْمَلِ اللُّغَةِ

b.     الْحَمَّامِ

c.     الْمَيْدَانِ

d.     الــمَقْصَفِ

Jawaban : A

3.    فِيْ مَدْرَسَتِيْ مَرَافِقُ كَثِيْرَةٌ مِثْلُ الـــمَسْجِدِ وَ الفَصْلِ وَ الــمَيْدَانِ وَالــمَقْصَفِ وَغَيْرِهَا.

مَعْنَى الكَلِمَةِ الَّتِيْ تحْتَهَا خَطٌّ ...

a.     Tempat

b.    Lapangan

c.     Fasilitas

d.    Kelas

Jawaban : C

4.    أَيْنَ يَقُوْمُ الطَّلَبَةُ الصَّلَاةَ فِي وَقْتِ الظُّهْرِ فِي المَدْرَسَةِ؟

a.     فِي الْمَسْجِدِ

b.    فِي الْمَطْعَمِ

c.     فِيْ الفَصْلِ

d.    فِيْ الــمَلْعَبِ

Jawaban : A

5.    هاشيم : أَيْنَ نَلْعَبُ كُرَةَ القَدَمِ وَ نُمَارِسُ الرِّيَاضَةَ فِي المَدْرَسَةِ؟

حمدان : نَلْعَبُ كُرَةَ القَدَمِ وَ نُمَارِسُ الرِّيَاضَةَ فِي ...

a.     الفَصْلِ

b.    الــمَكْتَبَةِ

c.     مَعْمَلِ اللُّغَةِ

d.    الْمَيْدَانِ

Jawaban : D

6.    يَكْتُبُ الطَّالِبُ مُلَاحَظَاتِهِ وَ وَاجِبَاتِهِ الدِّرَاسِيَّةَ فِي ...

a.     الحَقِيْبَةِ

b.    الدَّفْتَرِ

c.     الــمِقْلَمَةِ

d.    الكِتَابِ

Jawaban : B

7.    سالِم  : لِأَيِّ شَيْئٍ تَسْتَخْدِمُ القَلَمَ يَا أَخِيْ؟          عِرْفَان  : أسْتَخْدِمُ القَلَمَ ... دِراسَتِيْ

a.     لِلقِرَأَةِ

b.    لِلْكِتَابَةِ

c.     للسِّمَاعِ

d.    لِلنَّظَرِ

Jawaban : B

8.    الْجُمْلَةُ فِيْهَا "الــجُمْلَةُ الاِسْمِيَّةُ" ...

a.     يَذْهَبُ الطُّلاَّبُ اِلَى الــمَدْرَسَةِ

b.    طَبَخَتْ أُمِّيْ الطَّعَامَ فِي الــمَطْبَخِ

c.     الفَصْلُ نَظِيْفٌ

d.    إِذْهَبْ الاَنَ يَا أَحمَدُ !

Jawaban : C

9.    سُلَيْمَانُ تِلْمِيْذٌ فِي الــمَدْرَسَةِ الــمُتَوَسِّطَةِ الاِسْلاَمِيَّةِ. الــمُبْتَدَاءُ هُوَ ...

a.     سُلَيْمَانُ

b.    تِلْمِيْذٌ

c.     فِي الــمَدْرَسَةِ

d.    الــمُتَوَسِّطَةِ الاِسْلاَمِيَّةِ

Jawaban : A

10.                       يَدْرُسُ التَّلاَمِيْذُ عُلُوْمًا مُتَنَوِّعَةً. الفِعْلُ فِيْ هَذِهِ الجُمْلَةِ ...

a.     يَدْرُسُ

b.    التَّلاَمِيْذُ

c.     عُلُوْمًا

d.    مُتَنَوِّعَةً

Jawaban : A

11.                       نَحْنُ نُشَاهِدُ التِّلْفِزْيُونَ وَ نَسْتَقْبِلُ الضُّيُوفَ فِي ...

a.     غُرْفَةُ الجُلُوسِ

b.    اَلْحَمَّامُ

c.     غُرْفَةُ النَّوْمِ

d.    غُرْفَةُ الإِسْتِقْبَالِ

Jawaban : D

12.                       الضَّيْفُ يَجْلِسُ عَلَى ... فِي غُرْفَةُ الإِسْتِقْبَالِ بِهُدُوءٍ

a.    اَلْأَرِيكَةِ

b.   الــمَكْتَبِ

c.     اَلسَّرِيرِ

d.   الحِزَانَةِ

Jawaban : A

13.                       الوِسَادَةُ وَ السَّرِيْرُ وَ الحِزَانَةُ مَوْجُوْدَةٌ فِيْ ...

a.     غُرْفَةُ النَّوْمِ

b.    غُرْفَةُ الإِسْتِقْبَالِ

c.     الــمَطْبَخِ

d.    الحَمَّامِ

Jawaban : A

14.                       الصَّابُوْنُ وَالفُرْشَةُ وَمَعْجُوْنُ الاَسْنَانِ فِيْ ...

a.     الــمَطْبَخِ

b.    غُرْفَةِ الإِسْتِقْبَالِ

c.     الحَمَّامِ

d.    غُرْفَةِ الـمُذَاكَرَةِ

Jawaban : C

إِقْرَأْ وَأَجِبْ السُّؤَالَ فِيْ الرَقْمِ 15, 16, 17 !

 إِسْمِيْ لَيْلَى وَهَذَا بَيْتِيْ. بَيْتِيْ وَاسِعٌ وَنَظِيْفٌ. فِيْهِ غُرَفٌ كَثِيْرَةٌ مِنْهَا غُرْفَةُ الإِسْتِقْبَالِ وَغُرْفَةُ الـمُذَاكَرَةِ وَغُرْفَةُ النَّوْمِ وَ غُرْفَةُ الجُلُوْسِ وَالــمَطْبَخُ وَالحَمَّامِ. أَمَامَ بَيْتِيْ حَدِيْقَةٌ وَاسِعَةٌ, فِيْهَا أَشْجَارٌ مُتَنَوِّعَةٌ, مِثْلُ شَجَرَةِ مَنجُوْ وَشَجَرَةِ غُوَافَةٍ وَشَجَرَةِ نَرَاجِيْلَ. وكَذَالِكَ أَزْهَارٌ مُتَنَوِّعَةٌ, مِثْلُ يَاسْمِيْن وَوَرْدَةٍ. أحِبُّ بَيْتِيْ لِأَنَّهُ مُرِيْحٌ.

15.                       الغُرَفُ فِي بَيْتِ لَيْلَى ...

a.     أَرْبَعَةٌ

b.    خَمْسَةٌ

c.     سِتَّةٌ

d.    ثَلاَثَةٌ

Jawaban : C

16.                       الاَشْجَارُ أَمَامَ بَيْتِ لَيْلَى, إِلاَّ ...

a.     شَجَرَةَ مَنجُوْ

b.    شَجَرَةَ دغُوَافَة

c.     شَجَرَةَ دُوْرِيَان

d.    شَجَرَةَ نَرَاجِيْلَ

Jawaban : C

17.                       لِمَاذَا تُحِبُّ لَيْلَى بَيْتَهَا؟ ...

a.     لاَنَّهُ جَمِيْلٌ

b.    لاَنَّهُ مُرِيْحٌ

c.     لاَنَّهُ وَاسِعٌ

d.    لاَنَّهُ كَبِيْرٌ

Jawaban : B

18.                       أَذْهَبُ إِلَى الــمَدْرَسَةِ بِالحَافِلَةِ.

مَعْنَى الكَلِمَةِ الَّتِيْ تحْتَهَا خَطٌّ ...

a.     Bis

b.    Motor

c.     Sepeda

d.    Jalan kaki

Jawaban : A

19.                       بَيْتِيْ قَرِيْبٌ مِنَ الــمَدْرَسَةِ.

ضِدُّ الكَلِمَةِ الَّتِيْ تحْتَهَا خَطٌّ ...

a.     بَعِيْدٌ

b.    كَبِيْرٌ

c.     قَلِيْلٌ

d.    قَصِيْرٌ

Jawaban : A

20.                       بَيْتُكَ كَبِيْرٌ وَوَاسِعٌ.

القَوَاعِدُ فِيْ الجُمْلَةِ السَّابِقَةِ يَعْنِيْ ...

a.     الجُمْلَةُ الفِعْلِيَّةُ

b.    الجُمْلَةُ الإِسْمِيَّةُ

c.     خبَرُ كَانَ

d.    مَفْعُوْلٌ بِهِ

Jawaban ; B

 

Itulah beberapa contoh soal Bahasa Arab, semoga bermanfaat.