Kamis, 18 Desember 2025

MACAM-MACAM TARKIB DALAM ILMU NAHWU

A. Istilah Kata, Kalimat, Paragraf, dan Frasa dalam Bahasa Arab

Sebelum lebih jauh ke materi kita, terlebih dahulu kita bahasa apa itu kata, kalimat, paragraf dan frasa dalam Bahasa Arab.

perlu diketahui bahwa istilah penyebutan kata, kalimat, paragraf, dan frasa dalam Bahasa Arab berbeda dengan Bahasa Indonesia. Kata dalam Bahasa Arab diistilahkan dengan Kalimah, kalimat dalam bahasa Arab diistilahkan sebagai jumlah, paragraf sebagai fikrah, dan frasa sebagai ibarah.

Dalam materi tentang tarkib, untuk memudahkan kefahaman materi kali ini,  fokusnya adalah pada kata (kalimah) dan kalimat (jumlah). Serta contoh-contoh di materi ini saya pakai contoh berbahasa Indonesia saja, agar mudah dipahami.


B. Macam Macam Tarkib dalam Ilmu Nahwu

Definisi tarkib adalah susunan kalimat yang terdiri dari dua kata atau lebih yang memiliki kegunaan. Baik kegunaannya sempurna (faidah tam), disebut dengan sempurna karena kalimatnya jelas. Seperti  النجاة في الصدق "kesuksesan ada pada kejujuran". Ataupun kegunaannya tidak sempurna (Faidah naqishah) dalam artian kalimat ini masih tidak jelas, rancu, ambigu dan tidak memberikan info apapun. Seperti  نُوْرُ الشَّمْسِ "cahaya matahari" dan  إِنْ تَتقنُ عَلَى عَمَلِك  "jika kamu yakin amalmu". Dua contoh terakhir ini tidak jelas, dan pendengar tidak mendapatkan info apapun.

Dalam ilmu nahwu, tarkib atau selanjutnya disebut murakkab memiliki beberapa macam dan jenis. Masing-masing juga memiliki ciri dan konsep yang berbeda. Baik dilihat dari susunan kalimatnya, ataupun dari fungsinya.

1) Murakkab Isnadi, yang berarti, susunan kalimat yang terdiri dari musnad dan musnad ilaih. Isnad sendiri bermakna menghukumi sesuatu dengan sesuatu. Seperti الصّبر زَيْنٌ "Sabar adalah hiasan" dan يَفْلحُ الصّابرُ "Orang penyabar akan menang".

2) Murakkab Idlafi, kalimat yang terdiri dari susunan idlafah, kata pertama disebut mudlaf, sedangkan kata kedua disebut mudlaf ilaih. Contoh, كِتَابُ التِّلميذِ Adapun ketentuan pada kalimat ini adalah; kata pertama, tidak boleh ber أل, bertanwin, dan ber nun. Sedangkan di kata kedua harus dibaca jar.

3) Murakkab Bayani, adalah kalimat yang tersusun dari dua kosakata dimana kata kedua merupakan kata penjelas dari kata pertama. Murakkab Bayani terdiri dari tiga bagian, yaitu;

a. Murakkab Washfi, yaitu kalimat yang terdiri dari sifat dan maushufnya, seperti فَازَ التلميذ المجتهد (Murid yang rajin itu berhasil)

b. Murakkab taukidi, yaitu kalimat yang terdiri dari muakkid (penegas) dan muakkad (objek yang dipertegas). Seperti, جَاءَ الطّلاَّبُ كُلُّهُم (Siswa datang seluruhnya)

c.  Murakkab Badali, yaitu kalimat yang terdiri dari badal (penjelas) dan mubdal minhu (yang diperjelas), contoh رَأيْتُ خَلِيْلاً أَخَاكَ (Aku melihat Kholil, saudaramu).

4) Murakkab ’athfi (Konjungtif), adalah kalimat yang terdapat kata hubung (athaf) di dalamnya, contoh مَرَرْتُ بِمُحَمَّدٍ وَ صَالِحٍ (saya berpapasan dengan Muhammad dan Saleh)

5) Murakkab Mazji (Kata majemuk/Frasa), yaitu kalimat yang terdiri dari dua kosa kata kemudian dijadikan satu kata, seperti بَيْتَ لَحْمَ (Nama daerah di Israel) حَضْرَمَوْتَ (Nama daerah di Yaman). Bahkan, kalau kita melihat nama daerah di Indonesia juga banyak yang menggunakan kata frasa, seperti Sukabumi, Surabaya, Yogyakarta, dll.

6) Murakkab ’Adadi, yaitu kalimat hitungan dalam bahasa arab yang terdiri dari dua kata angka, antara kata pertama dan kedua dikira-kirakan huruf ’athaf (kata hubung). Ini berlaku pada hitungan angka sebelas sampai sembilan belas dalam Bahasa Arab. Seperti أحَدَ عَشَرَ (sebelas).

Dalam murakkab ‘adadi ada ketentuan khusus yaitu kedua kata tersebut harus dimabnikan fathah, baik dalam i’rab rafa’, nashab, maupun jar.

Semoga bermanfaat.

Daftar Rujukan : Kitab jamiuddurusularabiyah, karya Syekh Mustafa Al Ghalayiyni 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar