1. Definisi Naibul Fi'il
Ada bebarapa definisi naibul fail yang bisa dijadikan acuan dalam memahami naibul fail secara tepat, diantaranya ;
- Naibul fiil adalah musnad ilaih yang terletak setelah fiil mabni lilmajhul atau yang serupa (isim maf'ul).
- Naibul fiil adalah maf'ul bih yang menempati tempatnya fail, yang berarti dalam susunan naibul fa'il adalah susunan yang terdiri dari fi'il, fail, dan maf'ul yang kemudian failnya dibuang dan diganti dengan maf'ul yang menempati tempatnya fail, otomatis juga merubah hukum i'rab maf'ul yang awalnya nashab menjadi rafa'. Contoh ضَرَبَ صَالِحٌ عَمْرًا menjadi ضُرِبَ عَمْرٌو
2. Ketentuan Fi'il Mabni Lilmajhul
Ketentuan yang ada pada fi'il mabni lilmajhul berbeda dengan ketentuan pada fi'il mabni lilfa'il. Hal ini bisa dilihat dari perubahan harakat pada setiap komponen huruf tersebut.
Perubahan harakat ini bukan hanya terjadi pada kata fiil madli saja, tetapi juga berlaku pada fi'il mudlari, bahkan antara fi'il madli dan mudlari' perubahannya pun berbeda. Ketentuan tersebut adalah sebagai berikut ;
- Fiil Madli : ضُمَّ أوَّلُهُ وَكُسِرَ مَا قَبْلَ الاَخِيرِ
(Harakat awal hurufnya dlammah dan harakat huruf sebelum akhir dikasrah) contoh ضَرَبَ menjadi ضُرِبَ
- Fi'il Mudlari' : ضُمَّ أوَّلُهُ وَفُتِحَ مَا قَبْلَ الاَخِيرِ
(Harakat awal hurufnya dlammah dan harakat huruf sebelum akhir difathah) contoh يَضْرِبُ menjadi يُضْرَبُ.
- Pada fi'il madli dengan bina' ajwaf : Dikasrah awalnya seperti بِيْعَ , didlammah awalnya بُوْعَ, dikembalikan ke wazan awalnya بُيِعَ, ataupun dibaca imalah (bunyi antara fathah dan kasrah) بِيْعُ.
3. Sebab-Sebab Membuang Fa'il
Membuang fa'il dalam struktur kalimat mabni lil majhul bukan tanpa alasan, ada alasan yang melatarbelakangi terbentuknya struktur kalimat mabni lil majhul tersebut. Ulama ahli bahasa Arab menyebutkan beberapa penyebab fa'il dibung. Berikut ini adalah beberapa penyebab dibuangnya fa'il;
1. لِلْعِلْمِ بِهِ
Pembuangan fa'il dan menggantinya dengan naibul fail adalah karena fa'il sudah pasti diketahui secara umum hanya melihat dari struktur kalimatnya. Contoh وَخُلِقَ الاِنسَانُ ضَعِيْفًا (Manusia diciptakan lemah).
Dalam struktur kalimat tersebut, sudah bisa kita ketahui bersama bahwa pencipta manusia adalah Allah swt. tanpa perlu menyebut fa'ilnya saja kita sudah bisa menebak.
2. لِلجَهْلِ بِهِ
Yang kedua ini bisa dibilang sebagai kebalikan yang pertama, yaitu fa'ilnya tidak diketahui secara pasti, contoh سُرِقَ البَيْتُ (rumah itu kemalingan). Dalam konteks contoh ini kita tidak tahu siapa pelaku pencurian di rumah tersebut.
3. للرَّغْبَةِ فِيْ إِخْفَائِهِ لِلاِبْهَامِ
Dalam konteks ini, si pengucap sudah tahu fa'ilnya tapi ia lebih suka untuk menyembunyikannya, sehingga fa'ilnya pun tidak disebut. Contoh, رُكِبَ الحِصَانُ (kuda itu dikendarai)
4. لِلْخَوْفِ عَلَيْهِ
Pernahkah kalian ditanyakan seseorang tentang pelaku suatu kejadian, tapi kalian tidak ingin menyebutkan pelakunya (fa'ilnya) karena kalian takut kalau misalkan nama pelakunya disebut akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada pelaku tersebut.
Konteks keempat ini kurang lebih seperti itu, fa'ilnya dibuang karena kita takut terjadi sesuatu pada fa'il tersebut. Contoh ضُرِبَ فُلاَنٌ (fulan dipukuli). Misalkan kita ingin melindungi nasib pelaku dan khawatir padanya kalau kita sebut namanya. Jika kita menyebut siapa pelakunya, pelakunya akan celaka.
5. لِلخَوْفِ مِنهُ
Jika yang keempat takut terjadi sesuatu pada failnya, yang kelima ini kita khawatir kita takut pada fa'ilnya, walaupun sebenarnya kita sudah tahu pelakunya. Misalkan failnya adalah orang jahat dan merupakan pelaku kriminal yang jika kita sebut fa'ilnya, ia akan mencelakai kita. Contoh سُرِقَ البَيْتُ (Rumah itu kemalingan).
Andaikan kita sebut pelaku pencurian rumah tersebut, pelaku tersebut akan mencelakai kita, walaupun kita tahu siapa pelakunya.
6. لِشَرَفِهِ
Yang keenam adalah untuk menjaga kemulyaan fa'il, agar namanya tidak tercoreng, sehingga kita enggan menyebut fa'ilnya siapa. Contoh عُمِلَ عَمَلٌ مُنْكَرٌ (sebuah pekerjaan munkar dilakukan). Kita tidak menyebut fa'ilnya dalam rangka menjaga kehormatan dan kemulyaannya.
7. لاَنّهُ لاَ يَتَعَلَّقُ بِدِكْرِهِ فَائِدَةٌ
Yang terakhir adalah, fa'ilnya dibuang karena memang tidak ada kegunaan yang spesifik apabila disebut, singkatnya adalah disebutpun tidak penting. Contoh وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا (Jika kalian diberi penghormatan, maka balaslah (penghormatan itu) dengan penghormatan yang lebih baik). Dalam contoh ini kita pahami bahwa tidak penting siapapun yang memberi penghormatan, yang terpenting adalah kita harus membalasnya dengan yang lebih baik.
Itulah beberapa penyebab struktur kalimat menjadi mabni lilmajhul dengan membuang fa'il di dalamnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar