Selasa, 31 Desember 2013

PUISI UNTUKMU MUHAMMAD

MUHAMMAD

Telah kutelaah bait-demi bait dari semua syair pemujamu
Mereka tak satupun yang bisa menggambarkan kesempurnaanmu
Kau begitu agung
Namamu terkengan di setiap umatmu ini melangkah
Indahnya sifatmu telah menancapkan rindu umatmu ini padamu
Mataku tak hentinya meneteskan air mata jika ku baca kalimat-kalimat sejarahmu.
Hati ini tak tenang sampai aku melihatmu.
Datnglah walau hanya dalam mimpi belaka.
Jangan kau biarkan hambamu terkenang wajahmu selalu.
Ingin kupandangi wajahmu tapi tak bisa
Entah kapan impian ini kenyataan.
Ku Hanya berdo'a agar engkau mengabulkan permintaanku ya Allah.
Datangkanlah Muhammad SAW.

Kamis, 25 Juli 2013

MAKALAH FIQH




BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Perbedaan pendapat para ulama dalam menetapkan suatu hokum Islam sangatlah sering kita jumpai mengingat bahwa “perbedaan para Imam merupakan suatu rahmat bagi umat ini”. Mereka (para mujtahid) mencoba menggali hukum yang ada dalam Al qur’an dan Hadits Rosulullah dengan ijtihad mereka, melalui pandangan mereka dari berbagai aspek dan kecerdasan intelektual yang disertai rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap apa yang mereka putuskan menghasilkan sebuah perbedaan-perbedaan hukum yang sangatlah menarik untuk kami bahas dalam makalah kami ini, yang di antaranya yang akan kami bahas adalah tentang perbedaan hukum wajibnya memasukkan dua siku dalam membasuh kedua tangan, serta kewajiban mengusap sebagian atau kesemuanya kepala ketika mengusap kepala pada rukunnya wudlu. 
B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Menjelaskan rukun wudlu yang ke tiga yaitu membasuh kedua tangan sampai dua siku dan perbedaan pendapat para ulama’.
2.      Bagaimanakah perbedaan pendapat tentang batas-batas membasuh siku?
3.      Apakah Ulama’  juga berbeda pendapat dalam menetapkan batas-batas mengusap kepala?
4.      Dari segi apakah yang memunculkan perbedaan pendapat para ulama’?






BAB II
POKOK PEMBAHASAN

A.    MEMBASUH KEDUA TANGAN SAMPAI DUA SIKU
Fardlunya wudlu dalam ilmu fiqh ada enam, yang diantaranya adalah:
1.      Niat
Niat adalah bermaksud melakukan sesuatu yang dibersamakan dengan pekerjaan itu sendiri
2.      Membasuh Wajah
3.      Membasuh kedua tangan sampai siku-siku
4.      Mengusap sebagian kepala
5.      Membasuh dua kaki sampai dua mata kaki, dan
6.      Tertib
Namun, para ulama berbeda pendapat dalam menetapkan batas-batas basuhan dan usapan sebagaimana dalam membasuh kedua tangan, apakah wajib membasuh kedua siku ataukah tidak wajib. Dan juga dalam mengusap kepala apakah wajib membasuh semua kepala atau sebagian saja.
Membasuh kedua tangan sampai dua siku adalah rukun wudlu yang ketiga dari rukun wudlu setelah membasuh wajah dari rukun wudlu yang enam. Sebagaimana dalam Al qur’an disebutkan dalam surat Al Ma’Idah ayat : 6
يَاَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنوُا اِذَا قمْتُمْ اِلَى الصَّلَاَةِ فَاغْسِلُوا وُجُوْهَكُمْ وَاَيْدِيْكُمْ اِلَى المَرَافِقِ
Artinya : “ Wahai orang yang beriman! Jika kalian hendak mendirikan sholat, maka basuhlah wajah-wajah kalian dan tangan-tangan kalian sampai siku”
Ulama’ bersepakat tentang kefardluan membasuh kedua tangan ini, berdasarkan pada ayat Al Qur’an : وايديكم الى المرافق  akan tetapi para ulama’ berbeda pendapat dalam kewajiban membasuh kedua siku, Ulama’ jumhur, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Hanafi berpendapat sama bahwa membasuh kedua siku itu adalah wajib, namun sebagian ahli dhahir dan Malik dan Thabary bahwa tidak wajib memasukkan siku di dalam basuhan.
Perbedaan ini muncul disebabkan oleh adanya beberapa alasan di antaranya adalah Makna isytirok yang terdapat dalam huruf jer الى dan makna اليد  menurut kalam Arab.
Makna الىdalam kalam Arab terkadang bermakna Ghayah (Sampai) dan terkadang bermakna مع (beserta) dan makna اليد  yang bermakna bukan hanya makna tangan saja namun bermakna 3, yaitu telapak tangan saja,bermakna telapak tangan dan lengan, serta bermakna telapak tangan+ lengan+ lengan yang ada di atas siku-siku,  yang pada akhirnya menimbulkan kontroversi dalam menetapkan hokum kewajiban membasuh dua siku.
Bagi yang memberi makna الى  dengan makna مع (beserta) dan memaknai lafadz اليد  dengan makna yang terdiri dari makna yang ketiga yaitu bermakna “telapak tangan+ lengan bagian bawah siku+ lengan bagian atas siku, maka otomatis hokum memasukkan kedua siku adalah wajib, karena makna الى  jika bermakna مع adalah mencakup semuanya ditambah makna اليد  yang bermakna mencakup tiga tersebut, sengatlah jelas bahwa membasuh dua siku adalah wajib.
Namun jika memaknai الى  dengan makna ghayah (sampai) dan memaknai makna اليد  dengan makna selain makna yang ketiga ( telapak tangan+ lengan bagian bawah siku+ lengan bagian atas siku) dalam artian makna siku tidak dimasukkan dalam batas-batas yang harus dibasuh maka hukumnya tidak wajib untuk dibasuh.
Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shohihnya dari Abu Hurairoh Ra. Bahwa ia melihat Rosulullah SAW. Berwudlu, ketika beliau membasuh tangan kanan beliau membasuhnya sampai lengan atas siku begitu pula tangan kiri beliau, kemudian beliau membasuh kaki beliau yang kanan beliau membasuhnya sampai betis, begitu juga kaki kiri beliau. Kemudian ia berkata “begitulah aku melihat Rosulullah SAW. Berwudlu.”
Berdasarkan dalil hadits inilah hujjah para ulama’ yang berpendapat bahwa memasukkan dua siku itu juga wajib.
Karena jika ada lafadz yang diulang-ulang di antara dua makna, tidak wajib berpedoman hanya pada satu makna saja tanpa adanya suatu dalil, walaupun makna الى  dalam kalam Arab lebih jelas mengarah pada makna ghayah, begitu pula makna اليد  yang maknanya lebih mengarah pada makna selain makna العضد  (Lengan bagian atas Siku). Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa perkataan Imam yang berpendapat bahwa memasukkan siku tidak wajib lebih menang dan lebih unngul ditinjau dari segi lafdziyahnya, sedangkan dari segi dalil haditsnya maka imam yang berpendapat wajiblah yang lebih unggul, kecuali jika hadits ini hanya menunjukkan bahwa hal itu hanya sunnah saja.
Catatan:
·         Wajib juga membasuh segala apa yang ada di atas permukaan kulit tangan ketika wudlu, baik berupa bulu, jari-jari yang lebih, dan kuku-kuku (wajib juga membersihkan kotoran yang ada di balik kuku)
·         Bagi orang yang tidak memiliki sikut atau sikutnya berada pada anggota tubuh yang lain, maka membasuhnya dikira-kirakan pada jarak dimana siku itu biasanya terletak.
·         Suatu kaum berkata “Ghayah jika terdiri dari jenis yang memiliki ghayah maka masuk di dalamnya, dan apa bila bukan dari jenisnya maka tidak masuk di dalamnya.
B.     MENGUSAP KEPALA
Rukun wudlu berikutnya adalah mengusap kepala. Para ulama’ sepakat bahwa mengusap kepala termasuk dalam kefardluan wudlu, namun mereka (para ulama’) berbeda pendapat dalam ukuran yang wajib diusap, Imam Malik berpendapat bahwa wajib mengusap semua kepala, Imam Syafi’I berpendapat, sebagian Ashab Malik dan Abu Hanafi berpendapat bahwa mengusap sebagian saja yang fardlu.
Ashab Malik berpendapat bahwa wajib mengusap sebagian saja dan membatasinya sampai sepertiga kepala, dan sebagian mereka membatasinya sampai dua pertiga, sedangkan Abu Hanifah membatasinya sampai seperempat kepala. Tangan juga terhitung dalam ukuran usapan kepala ini, beliau (Abu Hanifah) berkata “Mengusap kepala jika menggunakan Jari kurang dari tiga, maka hal itu tidak disahkan”, Imam Syafi’I tidak membatasi apapun dalam mengusap kepala tersebut.
Asal dari perbedaan pendapat ini adalah isytirok makna yang ada pada ب   dalam kalam Arab, yaitu bahwa ب   terkadang berfungsi zaidah (tambahan) saja, seperti pada تنبت بالدهن  menurut qiroahnya Imam yang membaca تنبت dengan dlommah ta’nyadan ba’nya kasroh, dari madly انبت , dan terkadang bermakna littab’id ( sebagian).
Maka bagi Imam yang berpendapat bahwa Ba’ itu ziadah (tambahan) maka wajib mengusap semua kepala, namun bagi Imam yang berpendapat bahwa ba’nya adalah littab’id maka hukumnya wajib mengusap sebagian kepala saja, pendapat ini diperkuat dengan adanya hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim Rosulullah SAW. “bahwasanya Rosulullah berwudlu’ dan mengusap ubun-ubun beliau, dan bagian atas Imamahnya beliau”.  
Begitulah perbedaan pendapat yang terjadi antara para Ulama mujtahid yang berijtihad dengan pola piker mereka masing-masing.










BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Membasuh kedua tangan hukumnya wajib namun membasuh dua siku ada perbedaan pendapat
·         Menurut Jumhur,Imam Syafi’I, Malik, dan Abu Hanifah  hukumnya wajib
·         Menurut Ahli Dhahir, dan sebagian Ashab akhir Malik berpendapat bahwa membasuh dua siku tidak wajib
Mengusap kepala hukumnya wajib, namun para ulama berpendapat berbeda tentang batas-batas ukuran kepala yang harus diusap
·         Imam Malik berpendapat bahwa wajib mengusap semua kepala
·         Sebagian ashab Malik berpendapat bahwa wajib mengusap sepertiga
·         Sebagian Ashab Malik berpendapa bahwa wajib mengusap dua pertiga saja
·         Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa seperempat dan dengan tiga jari.
B.     KRITIK DAN SARAN
Kritik dan saran dari para pembaca sangat kami harapkan demi penyempurna pada penyusunan makalah berikutnya.







DAFTAR PUSTAKA
Imam Al Qodli Abu Al Walid Muhammad bin Ahmad Ibnu Rusyd Al Qurthubi, “Bidayah Al Mujtahid wa Nihayah Al Muqtashid”
Ibnu Al Qosim Al Ghazy “ Fathul Qorib”.

Senin, 15 April 2013

CERPEN KEBAYA


Ikan ikan kecil yang bersembunyi di balik bebatuan satu persatu mati akibat racun yang ditebar Rasikin, anak kampong sebelah ini acap kali memakai cara itu untuk menangkap ikan, sungaipun menjadi bau, akibat bangkai ikan-ikan kecil yang mengambang mati, hanyut terbawa air jernih sungai.

Sungai Barat penduduk desa Klingking menyebutnya, tampak indah bila dipandang dari tebing di hutan desa itu. Diwarnai indahnya pohon kesambi yang kecut-kecut manis bila kita emut. Batu batu besar di pinggiran sungai yang banyak diukir anak-anak yang tak punya kerjaan berlubang,bagikan ukiran seniman patung museum.
“kenapa sekarang yang banyak hanya ikan-ikan kecil mungil ini, dulu kan besar-besar, seperti lengan kurusku ini”, kata Ilham sambil mengangkat tangannya.
Pancing di tangannya tak satupun yang menyambar, malahan kain-kain robek yang kerap kali tersangkut di mata pancingnya itu.
“dari tadi, yang aku dapat cuman kain rombeng, makanya aku kesal. Untung aku bawa racun bekas ayahku menyemprot padi kemarin,….mati kau ikan” kata Rasikin geram memegang ikan gabus yang paling besar di antara ikan-ikan lain.
Cuaca panas kemarau tak membuatnya gerah, jika kepanasan iapun menceburkan diri ke dalam air setinggi paha orang dewasa. Terasa segar walau bercampur bangkai ikan. Sedangkan Sono teman SMP Rasikin sibuk menghidupkan api unggun, dengan kayu kyu kering yang ia patahkan dari pohon-pohon dekat sungai. Sambil mengocok-ngocok korek api yang sedikitpun tak mau mengeluarkan kobaran api. Dia mulai jengkel dan membanting korek itu sampai hancur berkeping-keping, sembari terdengar bunyi letusan kecil yang berasal dari korek rongsokan itu.
“gimana? Hidup gak apinya, enak nih kalau dibakar”, rasikin menyapanya sambil mengangkat ikan gabus besar di tangannya, sambil memutar lidah di antara dua bibirnya.
Sono yang mengernyitkan dahinya tak menjawab sapaan Rasikin, ia bermuka masam sesaat dan berkata tidak.
“makanya hidupkan api itu harus sabar, bukan marah-marah gitu”. Rasikin sedikit mensehatinya dengan nada agak menyindir.
Mereka memutuskan untuk pulang ke rumah mereka dan menjinjing banyak ikan di tangan mereka, dengan jalan sedikit girang mereka meloncat-loncat bergandengan tangan sambil berhitung satu, dua, dan tiga berkali-kali sampai melewati hutan belantara yang mereka tak pernah lalui sebelumnya, tapi karena hari sudah agak sore, hutan itu seakan tampak sedikit menakutkan. Jalanan hutan itu sempit semakin ke dalam hutan makin sempit saja, sehingga mereka yang awalnya berjalan berjejer ke samping berubah menjdi beriringan memanjang. Dengan hati dag-dig-dug tak karuan mereka dengan hati-hati melewati pohon demi pohon dalam hutan. Tubuh mereka mulai gemetaran dihantui perasaan yang mengganjal dan penuh tanda Tanya. Langkah mereka bertambah cepat saja. Seakan dari belakang mereka ada yang mengikuti, dan seakan hutan itu lebih panjang dari hutan yang mereka lalui siang tadi.
Mereka mencoba tuk kembali tenang dan mencoba berjalan agak pelan, tapi, rasa takut mereka makin bertambah, setelah mendengar deruman aneh dari samping kiri mereka. Suara itu semakin lama makin keras memekakkan telinga mereka. Mereka berteriak keras-keras, namun hutan itu seakan menjadi hutan mati. Tak ada suara apapun selain suara jangkrik yang berderik di setiap sisi jalanan hutan.
“kenapa tidak lewat bawah sungai saja sih” Rasikin menegur.
“mana aku tahu, hutan ini kan sudah sering dilalui ayah-ayah kita jika bekerja mencari kayu bakar, awalnya kan gak ada apa-apa?”. Saut Ilham yang sudah ngos-ngosan.
Mereka merasa bahwa mereka berputar-putar di hutan itu, tidak ada jalan keluar yang bias mereka lalui. Usaha mereka sia-sia saja. Mereka beusaha untuk berlari lebih cepat lagi, namun Rasikin sudah sampai batasnya. Kakinya penuh darah. Dia merintih kesakitan tersandung bekas kayu jati yang tajam.
“Lho… kenapa kita balik ke pohon ini lagi, kita mutar-mutar terus, kapan nyampeknya?”.
Sono merobek kain bajunya dengan pisau yang mereka bawa untuk menyobek daging ikan, dengan kain yang sudah dicampur getah pohon pisang yang konon bias mengeringkan luka lebih cepat, ia membalut luka di kaki Rasikin, Orang keras kepala ini ternyata memiliki rasa simpati yang tinggi pada temannya Rasikin.
Bau bangkai busuk membuat mereka semakin merasa seram melintasi jalanan hutan belantara itu.
Mereka memberanikan diri menerobos masuk semak penuh duri yang menghadang mereka di jalan buntu. Rasa sakit tertusuk duri-duri kecil mereka tahan. Namun, bukan jalan keluar yang mereka temukan, tapi, sesosok mayat bergelantung dengan lidah menjulur, matanya terbelalak. Mayat berpakaian kebaya hijau ini, masih sangat muda. Ilham menggosok-gosok mata penuh rasa tak percaya melihat manusia tak bernyawa ini. rasa takut yang tadi kami rasa, berubah menjadi perasaan kasihan pada mayat ini. Kebingungan membuat mereka berjalan mondar-mandir sendiri sambil memikirkan cara membawa mayat itu ke tempat yang lebih ramai.
Mereka  melihat sekeliling mereka, barangkali ada yang bias menolong mereka, tapi sia-sia.
Pikiran mereka buntu memikirkan jalan keluarnya.
Ketika pikiran mereka sudah putus asa, derum suara motor dua tak yang melaju dari arah belakang mereka membuat mereka bangkit dengan gesit, tak mau ketinggalan kesempatan besar. Sono dan Ilham menyetop pengendara motor ini, pria berhelem biru itu mengerem motornya mendadak, melihat dua anak menghadang jalan. Perlahan dia turun dan membuka helemnya. Sambil marah-marah karena sedikit saja remnya tak diinjak, mereka sudah tergeletak tertabrak bahkan bias saja mereka mati seketika.
“kalian mau mati lebih cepat ya?!”. Dia melotot sambil menunjuk-nunjuk telunjuknya ke arah wajah mereka berdua.
Orang ini tak asing di mata Sono dan Ilham, Mereka sangat mengenali wajahnya, orang ini yang sering mereka lihat di rumah Rasikin bahkan Rasikin begitu akrabnya jika berbicara dengannya.
“paman kan orang yang sering kami lihat di rumah si Rasikin”.
“Aku ini pamannya, memangnya kenapa?”. Wajahnya masih marah-marah.
Dengan tak sabar sambil menarik nafas dalam-dalam, suara mereka tersendak karena panic.
“paman kenapa bias lewat sini?”.
“lho, memangnya gak boleh?, saya ini baru datang dari rumah teman kerja saya yang kebetulan berada di seberang hutan ini, kalian sendiri kan temannya Rasikin, paman sering melihat kalian bersama Rasikin jika ke rumah”. Ucapnya seakan dia sudah bias mengenali mereka tanpa mereka beritahu.
Paman Hari namanya.
Tanpa piker panjang mereka menarik tangan paman itu dan membawanya ke balik semak belukar, orang itu seakan menahan tarikan mereka kuat-kuat, tapi tangan Ilham dan Sono tak mau kalah, sampai akhirnya merekapun bias menarik tangan orang itu.
Orang itu berdiri mematung melihat keponakannya Rasikin berdiri di samping mayat tergelantung, paman itu gemetaran melihat darah yang mengalir deras dari mulut mayat itu. Tak disangka paman Rasikin memang orang yang trauma melihat darah setelah istri kesayangannya dibunuh seseorang dua tahun lalu.

*
Mereka semua menggotong mayat itu ke pinggir jalan berbatu dan membaringkannya di atas debu musim kemarau yang halus.
“ini sudah hamper malam paman, bagaimana ini?”.
“kalian mengenal orang ini?”, Tanya paman Rasikin menginterogasi mereka bertiga.
“lah…..tahu wajah saja tidak, apalagi kenal,” jawab mereka serentak.
“lalu kanapa kalian bisa berada di sini?”.
“Kami hanya kbetulan lewat saja, tak tahunya ada mayat”.
Paman Hari memencet tombol-tombol hanphonenya untuk menelpon orang rumahnya. Wajahnya merah padam bukan karena marah, tapi panik.
“suaranya putus-putus, sinyalnya jelek”.
“maklumlah paman, disini kan pedesaan, apalagi ini hutan”. Jawab Rasikin penuh kecewa.
Ikan yang mereka tangkap susah payah, tak mereka hiraukan, ikan itu hampir membusuk dimakan semut-semut kecil.
Tiba-tiba mobil truk pengangkut batu di sungai menderum keras mendaki tanjakan hutan dari arah berlawanan dengan mereka, mereka berlari ke depan melambaikan tangan ke arah truk kuning yang penuh muatan batu-batu besar. Si kenek truk itu memukul-mukul badan truk pertanda menyuruh sopir untuk berhenti. Truk itu berhenti dan berjalan mundur.
“ada apa?”. Tanya kenek bertopi hitam legam itu.
“boleh beri kami tumpangan”. Pinta paman memohon.
“kami buru-buru sudah malam, sebentar lagi sholat maghrib tiba.
“kami menemukan mayat tak dikenal, bisa kami minta tumpangan membawanya ke desa sebelah?”.
Tanpa piker panjang kenek itu menyuruh kami mengangkat mayat itu ke atas truk, kami bersegera naik ke atas truk, Rasikin kini duduk tenang bersandar di bak truk, tubuhnya basah oleh keringat dingin, begitu pula Sono dan Ilham yang tak pernah mengalami kajadian seperti ini, dia tak biasa melihat mayat seperti itu sebelumnya.
Jika diperhatikan sepintas, mayat itu bukan dari kalangan orang miskin, dia memakai kebaya begitu bagus dan rapi. Dia masih sangat muda dan masih cantik.
Truk melaju pelan karena jalanan berbatu, supir itu dengan sabar mengemudikan truk perlahan.
Begitu senangnya Mereka melihat gerombolan orang-orang bersarung bersiap-siap menuju masjid untuk sholat berjama’ah, ya….kami sudah melewati hutan dan sampai di desa Hiliran. Desa yang terletak di sebelah timur desaku.
Namun, sebagian orang ada yang ramai-ramai di depan rumah yang paling bagus di desa itu, laju truk pun tersendak di jalan depan rumah itu. Supir truk berkali-kali membunyikan klakson karena kesal. Dia menjulurkan kepalanya sambil berteriak keras pada orang-orang itu. Mereka tak menghiraukan teriakannya.
Kenek truk pun turun dari atas truk dan meminta mereka menyingkir.
“maaf bapak-bapak ibu-ibu, kami mau lewat” katanya sabar.
“Oh…maaf pak, kami sedang kebingungan mempertanyakan anak ibu pemilik rumah ini, sudah tiga hari dia menghilang dari rumah” jawab salah satu penduduk pada kenek itu.
Mereka berbicara serius sekali membuat Rasikin, Ilham, Pamannya dan Sono menunggu cukup lama.
Sampai akhirnya paman kenek itu kembali menemui kami dengan wajah berat memerah penuh dengan keringat, wajahnya mengkilap sebab memantul dari wajahnya yang berkeringat sinar lampu depan rumah bagus itu.
“celaka kita”. Katanya menyesal.
“kenapa paman?” Tanya Sono melongoh.
“ada orang yang hilang sudah tiga hari, cirri-cirinya sama persis dengan mayat yang kita bawa ini”.
“lho.. kalau begitu langsung kita katakan saja pada mereka, kan itu lebih baik dari pada kita bawa ke rumah, kan repot”. Kata paman Rasikin mantap.
Paman kenek berdiam sebentar memikirkan sesuatu, baru setelah beberapa menit ia turun lagi dan mengatakan yang sebenarnya bahwa mereka telah menemukan mayat gantung diri di hutan dan sekarang berada di atas truk mereka.
Orang-orang yang tadinya masih sibuk berbincang-bincang bergegas melihat mayat itu, dan ternyata, memang betul itu adalah mayat orang yang mereka cari-cari. Si Milah mereka menyebutnya, yang menghilang setelah menghadiri acara resepsi pernikahan mantan kakasihnya. Maka dari itu mayat itu memakai kebaya yang masih rapi.
Sebagian orang berterima kasih pada mereka, dan sebagian mereka juga marah-marah karena tak segera memberitahu mereka apa yang mereka bawa.
Cukup lama Rasikin dan kawan-kawannya itu berada di rumah sang ibu dari mayat yang mereka temukan.
“Terima kasih sudah menemukan Milah, meski sudah saat keadaannya seperti ini”. Kata ibu tua itu tersenyum melawan sedih.
“sebenarnya dia bersama temannya waktu ke undangan itu, tapi katanya ia pulang lebih dulu dan temannya ini tidak bisa menyusulnya lebih cepat sehingga iapun menghilang” Ibu tua ini bercerita pada kami. Kami semua merasa lega karena bisa menolong orang lain dan mayat itu berhasil kami bawa kepada keluarganya tanpa diduga-duga kami menemukannya dan tanpa diduga pula mayat itu berhasil kami tolong.
“sudah ayo kita pulang, sudah jam delapan malam, angkutan batu saya sudah molor dari tadi sore” kata kenek itu memutus perbincangan kami.




Selasa, 05 Maret 2013

CERPEN ISLAMI

“PAK ABDUR RAHMAN”
Hujan deras di tengah kota metropolitan yang dipenuhi dengan hilir mudik mobil-mobil dan motor-motor yang melaju cepat, tak jarang orang pejalan kaki marah karena terciprat air kotor jalan yang disebabkan oleh  lindasan mobil-motor yang melaju dengan kecepatan tinggi.

 Mahfudz gemetaran karena  dinginnya air hujan yang membasahinya, dia berteduh di bawah atap halte kota dengan bibir yang tak mau berhenti bergetar. Di tangannya terdapat surat permintaan zakat fitrah dari takmir masjid di tempat ia tinggal. Tertulis jelas di dalam surat itu bahwa surat itu tertuju pada P. Rahmatullah namun ia tak tahu apa-apa tentang siapa sebenarnya orang itu, yang ia tahu dari orang-orang sekitarnya bahwa dia itu tinggal tak jauh dari halte tempat ia berteduh itu.
Ia mengunyah sebungkus roti yang ia beli dari pedagang asongan, sambil menunggu hujan reda, ia mencoba menghangatkan badannya dengan menggosok-gosok lengan bahunya yang basah kuyup, “wah…..deras banget hujannya, kalau begini terus, nanti suratnya bisa rusak nih…..biarlah aku tunggu saja hujan reda”, gumamnya dengan nada kedinginan.
Hujanpun reda, namun hari sudah sore, waktu manghrib hamper tiba, namun dia masih bersemangat untuk mencari pak Abdur Rahman, dan bertekad untuk tidak kembali ke tempat tinggalnya sebelum surat itu sampai  pada tujuannya. Ia berkeliling sekitar kota itu untuk mencari tahu dimana sebenarnya rumah pak Abdur Rahman. Karena ia mendengar dari tuan takmir bahwa pak Abdu panggilannya itu jika bersedekah tidak pernah sedikit.
Dia bertanya kesana-kemari pada orang sekitar dan ternyata yang ditunjuk oleh orang-orang tak berbeda dari sebelumnya yaitu tempat perumahan orang-orang China non Islam, “mana mungkin pak Abdu tinggal di tempat mereka gak mungkin?” namun karena Mahfudz memiliki rasa ingin tahu yang tinggi iapun menuju salah satu rumah yang bertanda salib di depan pintunya. “waduh, gimana ya nanti aku kena marah nih, tapi gak apa-apa yang penting aku bisa mengantarkan surat ini pada tujuannya”. Dengan hati deg-degan ia melangkah menuju depan pintu itu dan mengucapkan salam, namun tidak satupun ada yang menjawab salamnya, namun dia mengulangi salamnya beberapa kali, dan sia-sia saja. Diapun memutuskan untuk pergi dan bertanya pada rumah yang lain.
Dua langkah saja ia bergerak tiba-tiba pintu itupun terbuka dan menyambut mahfudz dengan wajah tersenyum. “kenapa orang ini berbeda dengan apa yang aku sangka” kata Mahfudz dalam hati, “silahkan masuk dik….” Mahfudzpun bergegas masuk ke dalam rumah yang megah itu dan terkejut melihat kemegahan rumah itu, dari luarnya saja sudah bagus dan dalamnya pun semakin menunjukkan kemegahannya. “duduk dulu dik, saya mau ambilkan minum dulu” katanya dengan nada ramah penuh penghormatan.
Diapun duduk dengan santai tanpa ada rasa khawatir akan dimarahi.
Tak beberapa lama penghuni rumah itu sudah kembali dengan membawa secangkir kopi dan makanan enak, “wah……rezeki Allah memang tidak kemana”. Mahfudz bahagia karena memang dia sudah sangat lapar.
Dia menyeruput kopi itu dan makan makanan yang telah disuguhkan oleh penghuni rumah itu setelah dipersilahkan, dia tidak pernah makan kue seenak itu sebelumnya.
Setelah makan kue, isteri penghuni rumah itupun mengajak Mahfudz untuk makan, dan hati Mahfudzpun semakin berbinar mendengar itu. Dan penghuni rumah itupun mengantarkannya ke ruang makan dan duduk untuk makan malam bersamanya. Tapi Mahfudz dalam hatinya timbul kegelisahan apakah makanan ini halal apa dari barang dan makanan yang haram.
Namun dengan hati terkejut penghuni rumah itu seakan bisa membaca apa yang ada dalam pikiranku, “tenang dik, makanan itu bukan daging babi tapi daging sapi, makan saja itu halal menurut agamamu”. Semua kekhawatiranku terjawab tanpa bertanya sebelumnya pada penghuni rumah itu dan tanpa piker panjang Mahfudz yang sudah lapar itupun makan dengan lahapnya.
Setelah makan dan meneguk minuman, “alhamdulillah….” Dengan nada lega ia mengucapkan syukur pada Allah. “dik…..orang muslim kan selalu mengucapkan kata-kata itu setelah mendapat rezeki atau kenikmatan, sebenarnya apa makna dari kalimat itu,” Tanya orang China ini penuh rasa ingin tahu. Tanpa piker panjang Mahfudz menjawab pertanyaan itu dengan serentak “sebenarnya ini adalah ungkapan syukur kita pada Allah tuhan semesta alam yang telah memberikan kami rahmat, rezeki, kesehatan, kenikmatan, dan segala yang Dia karuniakan pada kami ini hambanya, dan makna dari kalimat ini adalah “segala puji bagi Allah Tuhan alam semesta”. Tiba-tiba dengan wajah tertunduk orang China ini seakan memikirkan sesuatu yang sangatlah rumit, kemudian berkata “Wah…..berarti sangatlah  beruntung orang yang memluk agama  Islam, mereka selalu berterima kasih pada Tuhannya, meskipun keadaan mereka terkadang berada pada kesulitan, sedangkan kami sekeluarga tidak pernah mengenal rasa syukur, jangankan pada Tuhan kami, pada orang yang pernah menolong kamipun, kami tidak pernah berterima kasih. Kami hanya terlena dalam kemagahan. Terima kasih dik sudah mengikatkan saya.” Mahfudz tertegun mendengarkan perkataan yang diutarakan oleh orang China ini. Kemudian Orang China ini menanyakan nama dan apa tujuan Mahfudz datang padanya. Dan Mahfudzpun menjawab bahwa ia adalah utusan Takmir masjid At Taubah, datang untuk menyampaikan pesannya. Dan tanpa pikir panjang Orang itupun masuk ke dalam Ruang tengah dan membawa uang yang banyak dan dihadiahkan pada anak itu untuk diberikan pada Takmir masjid.
Mahfudz yang masih penasaran bertanya lagi pada orang penghuni rumah itu, “bapak kan non Islam, kok bisa nama bapak Abdur Rahman, padahal nama itu identik dengan nama orang Muslim, dan artinya pun dalam bahasa Indonesia adalah “Hamba Allah”. Dan bapak itupun terkejut dan bertanya lagi “benar apa yang kamu katakan itu?, saya tidak tahu dengan hal ini, cuman yang saya tahu adalah orang memanggil saya seperti itu, dan nama ini adalah pemberian orang tua perempuan saya, Dia adalah Muslimah Tiong Hoa, waktu saya masih kecil sekali  ayah dan ibu saya meninggal karena kecelakaan dan akibatnya saya harus tinggal bersama paman saya di Hongkong, dan tak sedikitpun mendapat sentuhan yang namanya agama Islam sehingga ya beginilah……..”. dia mengucapkan hal itu terlihat seperti orang yang sangat menyesali semuanya, seperti orang kehilangan sesuatu yang sangat berharga.
Aku semakin terdiam menyimak cerita orang Tiongkok ini, dia seakan menyanjung Islam melebihi agamanya sendiri, tak Mahfudz dengar ia menceritakan agamanya sama sekali dari awal Mahfudz masuk rumah itu, bahkan Orang itu mau bersedekah ke Masjid, melebihi shadaqah orang muslim.
Dalam hati Mahfudz bergumam, “andaikan dia orang Islam, pasti shadaqahnya akan lebih banyak dari ini, ya pasti…pasti”.
Setelah agak lama berbincang-bincang dengan pak Abdu dan karena malam sudah agak larut , Mahfudzpun pamit pulang dan berterima kasih pada pak Abdu.
Langkah Mahfudz tak dapat dikendalikan cepatnya, bahkan dia sedikit seperti orang yang berlari-lari kecil, tak sabar untuk menceritakan pengalaman yang sangat mengagumkan sepanjang hidupnya, suatu kejadian yang membuat iman dan kepercayaannya pada Islam meningkat.


Senin, 04 Februari 2013

MAULID NABI MUHAMMAD SAW

PERAYAAN MAULID NABI MUHAMMAD SAW.

 Tradisi yang dikembangkan oleh kaum ASWAJA baik di Indonesia maupun di luar negeri, Tradisi yang berdasarkan Al Quran Dan Assunnah, bagi umat islam NU di Indonesia acara ini menjadi moment untuk mengenang lahirnya Sayyidina Muhammad SAW. kita bersholawat pada beliau di bulan kelahiran beliau yaitu Robiul awal, pertama kali tidak berupa acara seperti ini, yaitu pada masa perang salib, umat islam terpecah belah dan kalah dalam peperangan, sehingga muncullah inisiatif untuk menyatukan umat islam kembali, dan dengan diadakannya lomba mengarang sholawat maulid Nabi SAW.
dan lomba itu dimenangkan oleh imam Al barzanji yang sampai sekarang karangan beliau masih kita baca, dan juga pada masa walisongo, yaitu diadakannya maulid nabi besar-besaran di masjid agung Demak, acara yang begitu meriah ini mengundang perhatian banyak orang termasuk umat Hindu pada saat itu, dan hal ini dijadikan sebagai senjata ampuh oleh para wali, yaitu setiap orang yang masuk ke acara itu harus mengucapkan dua kalimah syahadah, (Ashadu an lailaha illalah, waasyhaduanna muhammadur Rosulullah.).
dan tempat transaksi itu berada di depan pintu gerbang masjid, sehingga barang siapa yang memasuki masjid mendapat ampunan dari Allah SWT.
dan nama ghofuron dijadikan sebagai nama gerbang "GAPURA". yang berasal dari bahasa Arab yaitu GHOFURON. dan acara maulid memadukan budaya setempat dengan budaya Islam dengan adanya pohon pisang yang dihias sedemikian rupa, dan ini dapat kita temui di acara maulid di masjid-masjid dan surau-surau di Indonesia ini.

Kamis, 31 Januari 2013

PP. ROBITHATUL ISLAM KREJENGAN

PP. ROBITHATUL ISLAM KREJENGAN

PROFIL DAN SEJARAH
               
              PONPES ROBITHATUL ISLAM adalah pondok pesantren asuhan PESANTREN ZAINUL HASAN Genggong, pesantren ini didirikan oleh lima orang tokoh, namun pesantren ini mencapai puncak kejayaan pada saat KH. ACHMAD BISYRI (alm) menjadi pengasuh, nama awal pondok ini adalah pondok krejengan pada saat KH. Abdur Rauf (alm) Menjabat sebagai pengasuh pertama, namun pada saat masa KH. Ahmad Bisyri (alm) namanya dirubah menjadi seperti sekarang ini.
            Pesantren ini terletak di sebelah timur POLSEK Krejengan tepatnya di dusun Motten Kecamatan Krejengan Kabupaten Probolinggo. sekarang pesantren ini diasuh oleh Kyai Ahmad Hafidz Bisyri Putera alm. KH. Ahmad Bisyri.
PROGRAM UNGGULAN
             Program unggulan pondok ini di antaranya:
  1.  program cepat membaca kitab kuning.
  2.  Bahasa Inggris
  3.  Bahasa Arab.
  4.  Menghafal cepat Asma Al Husna. 
PROGRAM-PROGRAM PENDIDIKAN
  • Formal
  1. MI RAUDLATUL MUTAALLIMIN
  2. MTs AL ISLAMIYAH
  3. MA ZAINUL HASAN 3
  • Non formal
  1. MADIN ROBITHATUL ISLAM ULA
  2. MADIN ROBITHATUL ISLAM WUSTHO
  3. TAHSINUL KHOT
  4. DIROSAH KHOSSOH
  5. QIROATUL QUR'AN
  6. KHITOBAH
PRESTASI-PRESTASI
             Santri-santri Ponpes Robithatul islam ini sudah pernah menjuarai beberapa lomba diantaranya:
  1. Juara 1 MTQ Qiroatul Quran tingkat kabupaten Probolinggo pada tahun 2010
  2. Juara 2 MTQ  Probolinggo cabang khottil quran pada tahun 2010 & 2012
  3. Juara 2 MQK tingkat Provinsi Jawa Timur pada tahun 2011
  4. Sepuluh besar MTQ JATIM di Madiun.rtmp://118.98.97:1935/liveprogram

TIK MASUK PESANTREN



BELAJAR UNTUK KEMAJUAN UMAT YANG BERASAS AHLISSUNNAH WALJAMAAH
Ahlussunnah, ya, nama yang sering disebut-sebut media sebagai pembuat onar, banyak media massa menilai Ahlus Sunnah Wal Jamaah dengan sudut pandang  yang salah, padahal hal itu sangatlah tidak benar, Ahlu As Sunnah Wal Jamaah atau yang lebih spesifik lagi aliran Nahdlatu Ulama (NU) adalah aliran anti kekerasan.
Kita sebagai santri yang berasaskan ASWAJA tentu tidak terima dengan hal itu. Tapi, kenapa hal itu bisa terjadi?. Ya karena kita sebagai penganut ASWAJA sendirilah yang ketinggalan teknologi sehingga, mudah diperdaya oleh kelompok lain dan mempropagandakan masalah yang sebenarnya bukan ulah kita sebagai penganut ASWAJA. Mereka dengan mudah mebolak-balikkan fakta melalui media teknologi dan informatika.
Dengan fenomena-fenomena yang banyak kita saksikan ini, sehingga para santri tergerak untuk ikut serta dalam WORKSHOP TIK MASUK PESANTREN yang diselenggarakan oleh MAJLIS MUWASHOLAH BAINA ULAMA IL MUSLIMIN yang bekerjasama dengan relawan UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL dan didukung oleh TELKOM DAN KOMINFO, yang diselenggarakan di pondok-pondok pesantren di Jawa Timur, dan sampailah giliran kabupaten Probolinggo yang kedatangan tamu berharga ini. Tepatnya di pesantren Al Mashduqiyah Kraksaan. yang dilaksanakan pada tanggal 30 januari s/d 01 Pebruari 2013 yang dihadiri kurang lebih tiga puluh delegasi dari pesantren-pesantren di kabupaten Probolinggo. Acara ini juga untuk menghilangkan anggapan masyarakat tentang santri yang hanya bisa mengaji, namun hal itu tidaklah benar, dengan bertajuk pada SOCIAL MEDIA dan VIDEO STREEMING yang sangat membantu dalam penyebaran dakwah melalui media internet dan teknologi informatika.

dengan semangat dakwah yang kuat para santri delegasi ini belajar bagaimana mengoperasikan social media sebagai media dakwah mereka dengan dukungan video streeming yang memperlengkap media dakwah para santri ini. Mereka sedikit banyak mengetahui pentingnya internet sebagai sarana dakwah. dan mendapatkan pelajaran berharga bahwa pesantren tidak harus menyetop masuknya internet ke pesantren-pesantren, karena pada awalnya pesantren menganggap internet sebagai media perusak umat, namun dengan pengawasan yang benar dan pelatihan internet sehat seperti inilah yang akan merubah pola pikir pesantren tentang internet dari media perusak menjadi media pembantu yang sangat berguna.Jika beberapa tahun ke depan bangsa Indonesia baik santri maupun bukan, bisa menggunakan internet secara sehat, niscaya bangsa ini akan menjadi panutan bagi bangsa-bangsa lain dalam hal tekhnologi informatika.